Selama libur panjang akhir tahun 2008,
aku ingat akan hari-hari terakhir sebelum libur
Mas Koes dan Mas Wisnu, sahabat2 terbaikku
yang mengomentari isi blog-ku:
sebagai “barisan sakit hati” terhadap isi Saat-saat sendiri dan sepi.
Tak mengapa karena memang aku selama tahun 2008 ini
telah banyak terluka dan disakiti.
Jika diteruskan, kok tidak ada rasa syukur di dalamnya?
Justru inilah ungkapan rasa syukur dan kecintaanku pada institusi ini:
agar tragedi demi tragedi pada jaman ini tak terulang lagi
agar semakin hari menjadi hari yang lebih dinanti
karena di sana terbitlah matahari yang menghidupi.
Tulisan-tulisanku itu adalah sejarah hitam hidupku
yang semoga tak teralami oleh teman seperjalananku
Itu adalah catatan ungu
yang mencederai keindahan langit biru
yang begitu kaku membelenggu seluruh jiwaku
: yang termangu melihat manusia-manusia beku
Harapanku kini sampai tetes embun terakhir
smoga para pemimpin negeri ingat rakyat kecil
yang begitu lugu menerima nasib sebagai takdir
Dan aku akan sabar menanti
kapan bumi menjadi subur didiami
langit tidak lagi membakar siang hari
dan udara menjadi sahabat sejati
tidak ada desah dari hati
semua menatap rindu surgawi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar