Jumat, Oktober 15, 2010

ORANG MUDA KEBLINGER


Sedang malas menulis, tetapi ada bahan tulisan yang perlu diarsipkan. Sayang jika terbuang. Ini soal anak muda pilihan jaman sekarang.

Konon ada anak muda energik hasil pilihan para dewa. Ia adalah sarjana akuntansi yang brilian dan lincah. Kepiawaian dalam bidang ilmunya tak dapat diragukan. Ia juga disukai anak-anak bimbingan belajarnya. Ia memang membuka les akuntansi.

Kemarin ini ia diminta untuk membantu salah satu tim panitia di tingkat universitas. Sayang sekali ia menolaknya mentah-mentah! Lalu seseorang bertanya kepada yang lain: “apakah kamu pernah bisa menolak pekerjaan?” Jawabannya hanya senyum.

Orang yang tahu etika kerja, orang yang tahu sopan santun kerja, tidak mungkin menolak pekerjaan yang disodorkan kepadanya. Betapapun beratnya, betapapun menyakitkannya pekerjaan itu!

Ini sudah sangat keterlaluan! Sungguh-sungguh keterlaluan!

Aku mau melihat bagaimana karier orang ini. Aku mau lihat apa penilaian para dewa terhadap kepribadian orang ini, terhadap integritas orang ini. Apa jadinya institusi ini kalau setiap orang boleh menolak sebuah pekerjaan?

Satu lagi kutemukan kejanggalan orang muda yang menurutku salah asuhan, salah arah dan salah-kaprah!

Minggu, Agustus 29, 2010

THR


Pada penerimaan Tunjangan Hari Raya Tahun (THR) ini, saya hanya bisa menangisi diri sendiri, itu juga hanya dalam hati. Teriris-iris rasanya. Sakit sekali.

Berapakah besarnya THR saya? Semenjak awal tahun, rencana demi rencana sudah dibuat. Tapi rencana tinggal rencana, karena harus menelan pil pahit. THR saya dipotong sebesar Rp. 1.640.264,- (satu juta enam ratus empat puluh ribu dua ratus enam puluh empat rupiah)!!!

Dari mana datangnya potongan? Tak lain dari pengobatan. Saya sadar sepenuh-penuhnya sebagai orang yang tergantung dari obat. Tetapi tak pernah saya sesakit ini. Mengapa? Karena teman-teman saya justru mendapatkan bonus dari sisa jatah pengobatannya.

Adil? Adil, kata mereka yang iri, dengki dan berhati bar-bar! Orang yang sakit seperti saya harus terpotong THR-nya, sedangkan orang sehat ditambahkan penghasilannya. Adil sekali!!! Prinsipnya: bagi mereka yang sehat merasa dirugikan, bila yang sakit mendapatkan bantuan pengobatan!

Adil? Adil, kata mereka yang iri, dengki dan berhati bar-bar! Orang yang sakit seperti saya harus terpotong THR-nya, sedangkan orang sehat ditambahkan penghasilannya. Adil sekali!!! Prinsipnya: bagi mereka yang sehat merasa dirugikan, bila yang sakit mendapatkan bantuan pengobatan!

Dari prsinsipnya saja sudah salah. Prinsip manusia yang iri dan dengki!

Sabtu, Agustus 21, 2010

PRESTASI


Prestasi kerja, work performance, adalah suatu hasil yang dicapai oleh karyawan dalam mengerjakan tugas atau pekerjaannya secara efisien dan efektif, dapat diukur dan dinilai.

Dalam proses penilaian prestasi kerja (Asnawi, S. (1999), Aplikasi psikologi dalam manajemen sumber daya manusia perusahaan. Jakarta: Pusgrafin.), terdapat 2 macam teknik penilaian yang dapat digunakan: objektif dan subjektif. Penilaian yang objektif akan mendasarkan pada data yang masuk secara otentik, baik yang menyangkut perilaku kerja, kepribadian, maupun data mengenai produksi. Sedangkan penilaian yang subjektif sangat tergantung pada judgment pihak penilai. Oleh karena itu hasil penilaian subjektif perlu untuk dianalisis dengan lebih teliti, sebab ia dapat berakhir dengan relatif.


Pada upacara kemerdekaan ke 65 kemarin, di kantor kami ada 5 orang yang mendapatkan hadiah (Piagam, Pin dan uang), terdiri dari 4 Kepala Biro dan 1 Kepala Lembaga. Mereka dianggap berprestasi. Ada yang menerima piagam, pin dan uang, ada yang piagam dan uang, ada yang piagam dan pin saja.


Apa kriteria dan sistem penilaiannya, sama sekali tidak jelas, dan barangkali juga tidak pernah ada! Lihat saja, sebagai contoh, salah seorang dari mereka itu, semua orang dapat melihat, bahwa orang ini sebenarnya TIDAK MAMPU! Atasannya langsung pun mengatakan hal itu! Bagaimana mungkin bisa diberi piagam penghargaan sebagai yang berprestasi?


Duh Gusti, kasihanilah kami, nyuwun kawelasan nDalem….

Minggu, April 18, 2010

IQ TINGGI TANPA HATI

Di sisi lain, melihat gaya anak-anak muda itu, beberapa di antara mereka sungguh tidak simpatik. Mereka umumnya tidak memiliki sikap sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Gaya mereka sangat angkuh,


Mengapa demikian? Karena mereka merasa lebih pinter. Mereka kan sarjana? Sedangkan para seniornya bukan seorang sarjana. IPK mereka rata-rata di atas 3,5! Bahkan ada yang mendekati 4,0! Mereka genius. Tetapi sikap mereka cenderung menyepelekan orang-orang tua, menertawakan kelucuan orang-orang tua, biasanya karena kelambanannya.


Mereka tidak tahu, bahwa lembaga ini bisa sebesar ini karena orang-orang tua itu. Orang-orang tua itu, kata Mas Koes, :”ikut terlibat menumpuk batu bata satu per satu bangunan lembaga ini, dari nol sampai sebesar ini”, sedangkan mereka “tinggal pakai..!” Orang-orang muda itu tidak mengetahui dan tidak menyadari sampai ke situ, sehingga mereka bersikap seolah-olah kami ini cuma menumpang kepintaran mereka! Mereka melihat orang-orang tua itu hanya makan gaji buta saja.


Orang-orang tua itu biasanya hanya bisa mengelus dada, prihatin. Dalam hati mereka berkata, “anak-anak muda jaman sekarang memang tidak dapat menghargai sejarah! Mereka hidup seolah-olah langsung menjadi sarjana, langsung menjadi cendekiawan. Mereka tidak menyadari asal-usulnya".


Hati-hati memilih IQ tinggi tetapi tanpa hati untuk karyawan-karyawan baru. Karena bila hal ini tidak diperhatikan jangan-jangan kapal besar lembaga ini akan berubah arah, tidak sesuai lagi dengan cita-cita para pendirinya…


Sabtu, April 10, 2010

BOM WAKTU


Akhir-akhir ini banyak karyawan muda bermunculan. Bagus, karena memang sudah waktunya regenerasi. Karyawan seangkatan saya yang jumlahnya banyak, sudah akan pensiun pada kurun waktu 2011-2015. Akan terjadi ketimpangan karena perbedaan umur karyawan pada tahun-tahun itu akan menjadi kendala tersendiri. Tidak mudah menciptakan team dengan perbedaan umur yang mencolok. Apa boleh buat. Tidak ada perencanaan baik jangka panjang, menengah maupun jangka pendek.

Karyawan-karyawan muda itu banyak di beberapa biro tertentu. Seperti di biro saya, misalnya, tidak ada seorang pun karyawan baru, kecuali karyawan kontrak. Dari karyawan kontrak dapat menjadi karyawan tetap dengan persyaratan tertentu.

Melihat karyawan-karyawan baru itu, saya prihatin. Betapa tidak! Mereka itu sarjana, S-1, tetapi hanya dihargai sebagai Dilploma III, D-3. Ini lembaga pendidikan. Pendidikan tinggi lagi. Dan karyawan-karyawan baru itu hasil dari lembaganya sendiri, alumninya sendiri!!! Kalau orang sudah tidak bisa menghargai dirinya sendiri, hasil karyanya sendiri, apa yang diharapkan dari orang lain?

Dalam sharing saya dengan seorang teman muncul istilah “menanam bom waktu”. Mereka yang sekarang dirugikan itu, tidak menutup kemungkinan akan meledak di masa depan. Apakah pimpinan sekarang terkena ledakan? Tentu tidak! Mereka sekedar menanam kok. Yang terkena ledakan ya…pimpinan berikut…

Saya merasa sangat sedih melihat kenyataan ini. Untuk itu saya tulis di sini, agar suatu saat bom meledak, orang-orang, khususnya saya sendiri, tidak terkaget-kaget lagi.

Selamat menikmati bom waktu itu….!