Senin, Februari 09, 2009

SRI LIESTYANINGRUM


Oalah Nduk, nasibmu kok malang bener…

Betapa tidak! Kerja sudah mapan, penghasilan lumayan, seperti yang tertelan angin puyuh begitu saja, yang hanya meninggalkan bekas berupa puing-puing yang sulit didandani, hanya gara-gara fondasi bangunanmu yang kurang kokoh-kuat.

Padahal, kami, para teman-sahabatmu, tidak kurang satu apa untuk ikut memperkokoh bangunanmu itu. Tapi mengapa aliran sungai yang kecil itu pun bisa menghanyutkan bangunanmu juga? Hanya kamu yang paling tahu! Walaupun demikian, kami tak bisa mengibaskan tangan bak seorang pilatus! Sebagai sahabat dalam spukat, kami memble. Ternyata kami banci. Selama ini hanya hura-hura keluar kota dengan berkedok ziarah dan rekoleksi. Memalukan dan memilukan!

Di hadapan manusia, kamu tidak bisa mengelak. Tidak bisa menutupi bangunanmu yang sudah hancur. Kamu harus mau menerima hukuman. Tapi di depan Tuhanmu, kamu masih bisa mohon ampun. Dan Tuhan pasti mengampunimu, karena Ia maha tahu, bahwa kesalahan itu bukan melulu milikmu.

Tuhan melihat orang yang langsung berada di atasmu. Ia telah membiarkan air sungai itu menggerusmu pelahan-lahan tapi pasti. Ia seharusnya telah melihat kanker yang menggerogoti sedikit demi sedikit tubuhmu. Ia telah membiarkannya terjadi demikian. Tuhan pasti tidak senang melihatnya.

Di atas langit masih ada langit. Mengapa kepala unitmu juga membiarkan hal ini terjadi? Seharusnya ia yang paling bertanggung jawab atas dosa-dosamu. Karena keteledorannya, maka kamu hancur lebur seperti ini. Walaupun ia selamat dari mata manusia, tapi di mata Tuhan tidak demikian. Tuhan akan menjadikannya kerak neraka jahanam.

Akar dari segala dosa ini adalah “yang menguasai uang”. Tugas utamanya adalah pengawasan melekat. Atau paling tidak mengawasi agar uang milik perusahaan tidak ada yang hilang. Satu sen demi satu sen harus dipertanggung-jawabkannya. Apalagi sampai ratusan juta rupiah! Apa bentuk tanggung jawabnya? Ia mungkin aman sekarang. Tapi hati-nuraninya terketuk-ketuk, terganggu oleh keteledorannya sendiri. Ia akan dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Hidupnya tidak tenang.

Atau…sudah tidak ada hati nurani? Walahualam.

Kok nasibmu malang benar to Nduk…nduk...

Sabtu, Januari 31, 2009

SADISME

Tanggal 27 Januari 2009.

Jam 12.30 saya di TU Fakultas Teknik mendengarkan keluhan Pak Zulkifli tentang parkir di kampus. Saya cuek karena sama sekali tidak percaya pada isu yang dilontarkan. Dalam benak saya mengatakan, tidak mungkin sampai sesadis itu terhadap karyawan dan dosen!


Tanggal 29 Januari 2009.

Saya membaca edaran. Sungguh di luar dugaan: ternyata apa yang dibicarakan di FT itu benar2 terjadi!!!

Karyawan dan Dosen Tetap hanya boleh mendaftarkan 1 kendaraan untuk parkir gratis. 1 motor atau 1 mobil saja. Tidak bisa dua2-nya. Kalau pada satu hari ada 2 kendaraan atau lebih secara bersamaan, walaupun berbeda waktu, masuk ke Unpar, maka harus membayar parkir!


Boleh berlangganan: Mobil Rp. 50.000,- dan Motor Rp. 25.000,- per bulan.


Ini sebuah penyakit juga, namanya SADISME. Di kala orang lain memikirkan bagaimana meningkatkan kesejahteraan pegawainya, orang ini selalu berpikir BAGAIMANA MEMBUNUH SESAMANYA! Bagaimana tidak! Karyawan dan Dosen Tetap yang telah mengabdikan dirinya di lembaga ini masih harus direcoki dengan pembayaran parkir, yang memarkir kendaraan di halamnnya sendiri. Sungguh keterlaluan!!!


SADISME. Ia hanya memikirkan bagaimana dirinya bisa mempertahankan sebuah jabatan, bagaimanapun caranya. Dengan memakan sesamanya, dengan perbuatan yang sungguh2 tercela. Mengabaikan hati-nurani, dan menolak kemanusiaan.


Minggu, Januari 18, 2009

SAKIT PENYAKIT

Ada penyakit yang inginnya menyakiti orang lain
setiap saat mencari kesempatan untuk menyakiti
kalau perlu membunuh sesamanya pelahan-lahan
semakin korbannya menderita semakin puas hatinya

Ketika melihat kemapanan hari-hari
: orang sakit sembuh, yang kekurangan menjadi kecukupan
penyakitnya sering kambuh tiba-tiba

Memang akhir-akhir ini sakitnya menjadi-jadi
ia selalu kasak-kusuk ke setiap atasan yang mapan
menanam pengaruh di lahan subur jiwa yang lapar
merobek ketenangan berkarya di Unpar

Ada saja penyakit yang inginnya membunuh
membunuh karakter, membunuh keteraturan
dan menghidupkan kegelisahan hati yang tenteram
menina-bobokkan kekacauan sukma yang gersang

bandung, permenungan panjang selama libur akhir tahun 2008

Minggu, Januari 04, 2009

SYUKURKU 2008

Selama libur panjang akhir tahun 2008,

aku ingat akan hari-hari terakhir sebelum libur

Mas Koes dan Mas Wisnu, sahabat2 terbaikku

yang mengomentari isi blog-ku:

sebagai “barisan sakit hati” terhadap isi Saat-saat sendiri dan sepi.


Tak mengapa karena memang aku selama tahun 2008 ini

telah banyak terluka dan disakiti.


Jika diteruskan, kok tidak ada rasa syukur di dalamnya?


Justru inilah ungkapan rasa syukur dan kecintaanku pada institusi ini:

agar tragedi demi tragedi pada jaman ini tak terulang lagi

agar semakin hari menjadi hari yang lebih dinanti

karena di sana terbitlah matahari yang menghidupi.


Tulisan-tulisanku itu adalah sejarah hitam hidupku

yang semoga tak teralami oleh teman seperjalananku


Itu adalah catatan ungu

yang mencederai keindahan langit biru

yang begitu kaku membelenggu seluruh jiwaku

: yang termangu melihat manusia-manusia beku


Harapanku kini sampai tetes embun terakhir

smoga para pemimpin negeri ingat rakyat kecil

yang begitu lugu menerima nasib sebagai takdir


Dan aku akan sabar menanti

kapan bumi menjadi subur didiami

langit tidak lagi membakar siang hari

dan udara menjadi sahabat sejati

tidak ada desah dari hati

semua menatap rindu surgawi


Sabtu, Desember 20, 2008

TUNJANGAN KESEHATAN


Pada hari Jumat, 5 Desember 2008 (menjelang hari raya Iedul Adha), saya membaca bahan presentasi rapat, yang isinya antara lain tentang PERUBAHAN SYSTEM TUNJANGAN PEMELIHARAAN KESEHATAN.

Mudah-mudahan saya tidak salah mengingat:

  1. mulai Januari 2009, seluruh pegawai tetap diberi tunjangan kesehatan sebesar Rp. 300.000,- per bulan, dibayarkan bersamaan dengan penerimaan gaji, dipotong pajak.
  2. Jumlah istri (mungkin mulai Januari 2009 diperbolehkan beristri lebih dari seorang) dan jumlah anak tidak diperhitungkan.


Alasan Perubahan:

  1. System yang lalu dinilai rumit
  2. Pegawai yang sehat tidak diuntungkan
  3. Banyak kejadian yang tidak menyenangkan di Biro Kepegawaian


Mudah-mudahan perubahan ini tidak jadi dilaksanakan, karena

  1. Cukup atau tidak cukup pegawai sudah diberi tunjangan Rp. 300.000,- per bulan, kasihan bagi pegawai yang memiliki penyakit yang biaya berobatnya di atas Rp. 300.000,- per bulannya
  2. Berapapun jumlah anak maupun jumlah istri tidak diperhitungkan
  3. Seseorang yang sakit harus memiliki uang sendiri untuk berobat, diharapkan dari tunjangan tsb.
  4. Seseorang yang tidak memiliki uang sendiri, tidak akan bisa berobat tanpa surat pengantar
  5. Akan banyak pegawai dan keluarganya yang tidak mampu berobat, akibatnya banyak dari mereka yang tidak tertolong dengan cepat
  6. Banyak karyawan yang menganggap tunjangan itu sebagai kenaikan gaji, mungkin lebih2 akan diijonkan terlebih dahulu.
  7. Alih-alih menaikkan pendapatan melalui gaji, malah justru semakin menyengsarakan karyawan terutama golongan I dan II
  8. Yang diharapkan karyawan adalah naiknya plafon pengobatan, bukan merubah sistem yang selama ini sudah baik.
  9. Tidak ada ketenangan sewaktu karyawan/keluarganya sakit, karena harus merogoh koceknya sendiri. Selama ini ada ketenangan karena cukup membawa surat pengantar.