Rabu, Januari 25, 2017

Dia adalah Cahaya Abadi



Hanya terang cahaya yang dapat mengalahkan kegelapan. Semua kegelapan demi kegelapan dalam hidupku mendapatkan terang cahaya, sehingga aku bisa kembali melihat jalan. Ya, terang cahaya itu telah menuntunku di jalan yang benar di dalam perjalanan hidupku menuju sebuah tempat yang serba membahagiakan. Bukankah setiap orang sedang berusaha mengarahkan tujuan hidupnya menuju kebahagiaan?

Melalui Dia, aku melihat cahaya itu. Dia menuntunku kepada tujuan hidupku. Aku melihat jalan itu, karena terang cahaya-Nya. Setiap kali aku melupakan-Nya, maka gelaplah hidupku. Tapi begitu aku jalan bersama-Nya, lenyaplah kegelapan itu. Maka hidupku penuh rasa syukur, betapapun banyak hujat-maksiat di sekelilingku.

Sepanjang hidup-Nya, Dia dihujani dengan hujatan dan kemaksiatan. Walau begitu aku tetap melihat Dia lurus. Dia konsisten, benar dikatakan benar, salah dikatakan salah. Yang salah tidak disalah-salahakan, tidak disingkiri, tidak dibenci, tapi diampuni, diberi pengertian bahwa itu salah untuk tidak diulangi lagi. Dia mementingkan pertobatan batin, dan Dia mengetahui batin seseorang.

Aku mengikuti-Nya, karena Dia menerangi hidupku. Apapun yang Dia lakukan tetap menerangi alam sekitarnya. Cahaya yang terpancar dari diri-Nya begitu terang. Sering kali orang tidak menyadari bahwa terang cahaya itu berasal dari-Nya.

Dia adalah terang cahaya abadi. Sejak dalam proses penciptaan, dimana pada awal mulanya dunia ini gelap gulita, Dia muncul sebagai cahaya terang. Dan baru nyata terlihat pada dua ribu tahun yang lalu, saat Dia hadir di tengah-tengah umat manusia, sampai sekarang.

Selasa, Maret 08, 2016

Senin, Maret 07, 2016

Aku Kembali ke Masa Lalu


Aku kembali ke masa lalu. Melalui lorong waktu yang 40 tahun lamanya, aku sampai di tgl 12-13 Februari 2016. Lorong yang paling panjang seumur hidupku.

Sejak kutinggalkan pada akhir tahun 1976, tahun ini aku boleh kembali di tempat ini, Belinyu, Bangka Utara. Dengan dibiayai oleh alumni St. Agnes, aku dimanjakan di Belinyu selama 4 hari. Betapa tidak! Dari hari Kamis, 11 Februari 2016, aku bersama Pak Supangkat, Pak Sugriwanto dan Pak Giri Kuwata telah ditunggu oleh seorang alumni yang ditugasi khusus menyertai perjalanan kami dari Jakarta sampai kota Belinyu, Maria Theo Ngiat San.

Mendarat di Bandara Dipati Amir kami telah ditunggu oleh puluhan alumni maupun mantan guru. Sudah ada bus yang menunggu para alumni dari luar Bangka.

Sejak mendengar bahwa akan ada temu alumni pada bulan Desember 2015, aku sudah menggebu ingin sampai hari yang ditunggu itu. Aku siapkan kronik berupa lirik lagu untuk lagu “The Litle Drummer Boy”.

Dengan disambut oleh beberapa alumnus, kami sudah di-booking-kan hotel, Golden Dragon Hotel, Belinyu. Sedari malam itu kami berempat sudah merasakan kehangatan penyambutan yang luar biasa.

Esok harinya, kami ikut jalan kaki pagi bersama guru dan murid keliling kota Belinyu sambil memungut sampah, mengajarkan rasa tanggung jawab atas kebersihan kota. Siang harinya kami diingatkan kembali kota Belinyu dengan menelusuri jalan-jalan, rumah-rumah alumnus, sampai ke beberapa pantai.

Hari ke tiga pun masih diajak berputar-putar kota dari sisi yang lain. Sampai malam puncaknya, acara Reuni Akbar 85th Santa Agnes di halaman sekolah. Disana telah beridiri panggung yang megah, tempat acara demi acara digelar sampai jam 22.00!

Terima kasih tak terhingga kepada para alumni yang dengan tulus menerima, mengajak-merangkul, melayani, memanjakan, mengangkat dan menghormati kami mantan guru. Kami bangga dan tentu bahagia bercampur haru memiliki murid seperti kalian. 

Ketika aku tersadar, aku terbelalak telah sampai pada waktu masa kini kembali, di Bandung,  Minggu, 14 Februari 2016, pada pukul 20.30.

Selamat berkarya, sampai jumpa di temu almuni 88th.

Selasa, Februari 09, 2016

DUC IN ALTUM



Bertolak ke tempat dalam berarti sikap pasrah untuk diubah oleh Tuhan

Mgr AntoniusYesus meminta para nelayan untuk “’Bertolaklah ke tempat yang dalam” (Luk 5: 4). Di situ, menurut Uskup Bandung dalam Surat Gembala Prapaskah 2016, yang dibacakan dalam Misa di semua gereja dan kapel di keuskupannya, 6-7 Februari 2015, “Yesus mengajak mereka untuk keluar dari zona aman dan nyaman yang selama ini dirasa cukup untuk hidup seadanya.”

Namun, tegas Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, “Bertolak ke tempat yang dalam membutuhkan usaha lebih keras, nyali lebih berani, dan risiko lebih besar. Bertolak ke tempat yang dalam berarti membiarkan diri untuk mau dipimpin oleh Yesus. Bertolak ke tempat yang dalam berarti menerima tantangan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Akhirnya, bertolak ke tempat yang dalam berarti sikap pasrah dan percaya untuk diubah oleh Tuhan.”

Surat Gembala itu memang mengulas Injil hari itu, Luk 5: 1-11, tentang Yesus bertemu dengan para nelayan. Ajakan “bertolak ke tempat yang dalam” adalah undangan untuk makin mengandalkan Allah, menjadi bagian dari masa pertobatan pada tahun yang bertema “Hidup Pantang Menyerah,” kata Mgr Subianto.

Dijelaskan dalam surat gembala yang ditandatangani di Bandung pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari 2016, bahwa mau dan mampu hidup pantang menyerah kalau mengandalkan Allah dan percaya bahwa Allah akan memberi jalan keluar tepat pada waktunya dengan cara yang pas asalkan kita tetap berusaha.

“Ajakan bertolak ke tempat yang dalam sebagai undangan untuk lebih memperhatikan sesama menjadi bagian dari tobat kita entah dalam pekerjaan maupun pelayanan. Kedekatan dengan Allah memacu kepedulian pada sesama dan peningkatan hidup pribadi,” kata Mgr Subianto.
Namun saat ini cukup banyak orang bertemu pintu tertutup bagai jalan buntu seperti yang dialami Petrus dan teman-temannya. “Di tengah kesulitan ekonomi, ada orang yang menderita kekurangan hingga hidup sengsara. Di tengah tuntutan pekerjaan, ada orang yang merasa sarat dengan beban hingga hidup tertekan. Di tengah usaha hidup sehat, ada orang yang sakit berat hingga hidup sekarat. Di tengah godaan dunia yang menggiurkan, ada orang yang tak berdaya keluar dari belenggu kebiasaan buruk hingga hidup putus asa. Di tengah impian akan kebahagiaan berkeluarga, ada orang yang tidak setia pada janji perkawinannya hingga hidup gelisah.”

Di situlah, kata Mgr Subianto, orang membutuhkan kehadiran Yesus yang memanggilnya: “Bertolaklah ke tempat yang dalam!”
Uskup berharap semoga laku tobat di masa Prapaskah 2016 membawa perubahan kualitas hidup. “Dengan mati raga dan puasa, kita menjadi orang yang makin mampu mengendalikan diri dan giat bekerja pantang menyerah. Melalui doa dan tapa, kita menjadi diri yang lebih pasrah dan mengandalkan Allah. Lewat amal kasih, kita menjadi pribadi yang makin peduli pada sesama. Perubahan kualitas hidup ini hanya terjadi kalau kita terbuka membiarkan Tuhan masuk ke dalam perahu hidup kita dan dengan penuh iman mengikuti undangan-Nya untuk bertolak ke tempat yang dalam,” tulis Mgr Subianto.

Dalam surat gembala itu, Uskup Bandung juga menyinggung tentang Tahun Belas Kasih sedunia dan Tahun Keluarga se-Keuskupan Bandung. “Dengan menetapkan tahun 2016 sebagai Tahun Belas Kasih Allah, Sri Paus Fransiskus mengajak kita ‘untuk dengan lebih sungguh menyerap belas kasihan Allah agar kita dapat menjadi tanda efektif dari karya Bapa dalam hidup kita”’ (Misericordiae Vultus, 3). Dengan kesadaran akan belas kasih Allah itu, kata uskup, pada Rabu Abu, 10 Februari 2016, masa Prapaskah dimulai sebagai saat rahmat dan kesempatan khusus untuk bertobat agar makin dekat dengan Allah.

“Pada saat itu kita disadarkan akan belas kasih Allah supaya membenahi diri dari kelemahan dan dosa, meningkatkan sikap peduli dan relasi dengan sesama, serta memperdalam kehidupan rohani dan kedekatan dengan Allah. Sikap tobat itu kita wujudkan melalui doa dan tapa, pantang dan puasa, serta amal dan kasih,” tulis uskup.

Menyinggung tentang Tahun Keluarga Keuskupan Bandung (2016-2018), uskup menegaskan, “secara khusus saya mendoakan saudara-saudari untuk setia menjaga kekudusan sakramen perkawinan dan keutuhan keluarga.” Kalau menemui kesulitan bagai jalan buntu, lanjut Mgr Subianto, “undanglah Tuhan yang penuh belas kasih untuk memasuki bahtera keluarga saudara sekalian dan bersama Tuhan bertolaklah ke tempat yang dalam.” (pcp)
sumber : http://penakatolik.com/2016/02/09/bertolak-ke-tempat-dalam-berarti-sikap-pasrah-untuk-diubah-oleh-tuhan/

Kamis, Maret 26, 2015

Hanya Terang Yang Mampu Mengusir Kegelapan

Untuk mengisi blog pertama dalam tahun 2015 ini, aku turunkan tulisan bagus dari Pastor Maman (dari SJB No. 12/21-22 Maret 2015)


Oleh: Pst. Thomas Maman Suharman, OSC


Diceritakan bahwa para Ahli Kitab, golongan Farisi, dan kaum terdidik di jaman-Nya (Lk. 11:14-23) menolak dan memusuhi Yesus. Mereka tak mau mengakui-Nya sebagai tanda dari Allah. Lebih dari itu, ketika Yesus menyembuhkan orang bisu, mereka menuduh Yesus bersekongkol dengan roh jahat, dengan kepalanya, Beelsebul.

Mengapa mereka menolak Yesus? Karena cara mereka menghayati agama berbeda dari Yesus. Bagi mereka, agama adalah untuk pamer dan kepura-puraan saja. Kesalehan mereka seperti puasa, doa, dan amal baik, mereka lakukan dengan rajin dan cermat. Tapi sayang, mereka melakukannya semata dengan maksud agar dipuji orang. Sedangkan bagi Yesus, agama adalah hati yang baik, belaskasih,  dan perjuangan keadilan. Maka Ia gampang menolong orang, menebarkan apa yang baik.

Orang- orang yang ditolong itu bersyukur dan kagum atas perbuatan baik Yesus, mereka merasakan dan mengakui bahwa Ia tanda dari Allah di dunia, mereka lalu mengagungkan Allah.

Nah, sebagai kaum terpandang dan pemuka masyarakat, menyaksikan bahwa rakyat banyak berpihak kepada Yesus, membuat mereka itu tersinggung, merasa mendapat saingan, irihati, hal yang menambah kebencian mereka kepada Yesus, sehingga mereka menolak-Nya.

Ada pelajaran lain yang dapat jadi bahan renungan kita: roh yang jahat, hanya dapat diusir oleh roh yang baik, kegelapan hanya dapat diusir oleh terang.  Demikian juga manusia, kalau roh jahat ada dalam dirinya, itu hanya dapat diusir oleh roh yang baik; dan setelah dibersihkan dari yang jahat, dari sampah kesalahan dan dosa, jiwanya tidak boleh tetap kosong, melainkan agar jadi tempat tinggal roh yang lebih berkuasa, yang kudus dari Allah. Hanya Roh Yesus, yang baik dan berkuasa dari Allah, yang tangguh menjaga manusia dari kuasa jahat.

Tuhan, lindungi kami agar kuat menepis setiap godaan jahat; jangan kami menjadi seperti rumah bersih tapi kosong, melainkan diisi oleh Roh yang baik dari Allah. Tanamkan keinginan akan kehadiran Terang Roh-Mu yang Kudus dalam diriku, agar Ia meluruskan cara kami menghayati agama: bukan untuk pamer dan kepura-puraan, melainkan untuk menghadirkan kebaikan, kebaikan, cintakasih. Jadikan kami saleh, tapi buatlah kesalehan kami terungkap lebih-lebih dalam mengusahakan kebaikan keadaan di sekitar kami, solider dengan orang yang dirundung susah (Bdk Yes 58: 6 Puasa yang dikehendaki Tuhan).

Sabtu, Agustus 02, 2014

Pojok



Ruang rapat kami hari itu berbentuk huruf “U”. Peserta rapat hadir satu per satu menempati tempat duduk pada bagian hurug U yang tertutup. Bagian huruf U yang terbuka tidak dipilih oleh peserta karena disana ada screen. Orang mengetahui disana tempatnya para pimpinan.


Tiba-tiba ada seorang peserta rapat langsung duduk di ujung huruf “U” yang terbuka itu, dan yang jelas orang tersebut bukan salah satu dari pimpinan. Orang-orang yang sudah hadir lebih dulu merasa agak aneh. Teman di sebelah kiriku berkomentar bisik-bisik, dan aku hanya menjawab singkat: “ia sudah merasa dirinya berbeda..”


Dugaan kami semua salah. Ternyata para pimpinan yang datang agak paling akhir justru menempati tempat duduk pada huruf “U” yang lain, yang tertutup. Orang yang duduk menyendiri pada pojok huruf “U” yang terbuka juga kelihatan kecewa, tepatnya kecele.


Rapat dibuka oleh pimpinan tertinggi. Pertama ucapan selamat pagi. Yang kedua: “saya mengucapkan selamat kepada orang yang duduk paling ujung yang telah lulus dari studi lanjutnya..” semua peserta rapat tepuk tangan panjang dan meriah. Teman di sebelah kiriku kembali berbisik: “aku tahu sekarang kenapa dia duduk menyendiri di sana…” dan aku hanya bisa menginjak ujung sepatunya, sambil berdiri mengikuti peserta rapat lainnya yang akan memberikan ucapan selamat sambil menyalaminya…

Sabtu, Juli 26, 2014

She is working alone



Mana stafnya yang hebat itu? Mana? Kok dia bekerja seorang diri? Selama ini tak pernah kulihat ia bekerja seorang diri. Tak pernah kulihat.

Biasanya ada yang membantu membawakan laptopnya, biasanya saya lihat ada yang membantu mencari stop-kontak untuk menyalakan laptopnya,  ada yang membatu membuat notulisnya, membantu mengetik hasil-hasil rapat.

O, ternyata orang yang biasa membantu tidak disertakan lagi dalam rapat evaluasi kali ini. Ia digantikan oleh anak muda yang hebat! Tapi, kenapa she work alone? Karena dari awal orang yang ditunjuk untuk membantu, perginya tidak bersama-sama dengan orang yang harus dibantu, tetapi malah ikut mobil unit lain. Akibatnya seperti yang aku lihat: dia mengangkat-angkat laptop dan dos-dos perlengkapan sekretariat, seorang diri!

Barangkali pada siang harinya anak muda ini akan membantu. Tetapi setelah makan siang justru tidak nampak batang hidungnya. Tanya kanan-kiri ternyata ia diijinkan pulang duluan. Aduh, syukur kepada Allah, karena di kantor dalam keadaan kosong, dan ia diperbolehkan pulang ke kantor duluan.

Sementara di ruang rapat tetap saja she working alone, ia harus melaporkan pekerjaannya, tapi juga harus menjadi notulis. Sampai malam hari, pada saat rapat selesai, ia menggulung kabel sendiri, menutup dan melipat, packing bawaan, dan mengangkuti barang2 ke mobil yang menjemput, seorang diri.

Si anak muda kembali ke kantor dan bebas bermesraan bersama sang pacar (harap diketahui bahwa pacarnya adalah karyawan dari ruangan sebelah).
Sungguh mengenaskan pengalaman hari itu…

Minggu, Juli 13, 2014

Tidak Betah



Sejak awal sudah minta pindah tempat, katanya karena di tempat itu dekat dengan loket pelayanan. Yang kedua, tempat itu dekat dengan orang-orang yang tidak dia sukai.

Alasan terkuat pertama sudah berhasil dihindari, dihilangkan. Sekarang masih ada alasan kedua. Bagaimana cara menghidarinya?

Jika setiap turun hujan batu itu tertetesi air terus menerus pada sisi yang sama, batu itu akan berlubang juga. Jika seseorang dimitai hal yang sama terus menerus, betapapun kerasnya pendirian orang itu dan betapapun kuat bentengnya, ia luluh juga: Ia mengabulkan permintaan itu! Seorang teman kerja akan pindah.

Sementara itu diluar hiruk pikuk masalah di atas, ternyata ada pemandangan indah. Orang itu kelihatan sangat pendiam. Sering sekali aku “say hello” karena merasa kasihan. Ia juga sering sekali meninggalkan tempat duduknya. Sering sekali ia tidak kelihatan di tempat dalam jangka waktu yang lama.

Jika ada tamu tertentu, ia sangat hidup, ceria, bahagia tak terkira.
Ada pemandangan yang lebih indah tatkala kita pergi keluar bersama unit lain. Ia kelihatan sangat happy, bukan bersama teman se-unit, tetapi di tengah2 unit lain itu. Pada jam-jam istirahat, jam makan, ia selalu berbunga-bunga di tengah-tengah teman unit lain itu.

Ia kembali “mati” saat harus berkumpul dengan teman-teman se-unit. Sungguh amat kasihan. Ternyata ia sendiri yang sangat tidak betah, sangat tidak kerasan!