Sabtu, Juni 24, 2017

Kenapa Tuhan Harus Disembah?

oleh : Rm. Gabriel Abdi Susanto, SJ

SEDIKIT permenungan pribadi yang rasanya layak dibaca untuk semua orang. Masih ingat dalam benakku tentang asas dan dasar kenapa kita, manusia diciptakan. Buku Latihan Rohani yang muncul dari kristal-kristal pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola yang kukenal sejak aku masih duduk di bangku SMA Seminari Menengah Mertoyudan makin dalam kupelajari dan kuhayati saat masuk Ordo Serikat Jesus, kurang lebih mengatakan demikian :

...tujuan manusia diciptakan untuk memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan…… Man is created to praise, reverence, and serve God our Lord, and by this means to save his soul. And the other things on the face of the earth are created for man and that they may help him in prosecuting the end for which he is created….. (Spiritual Exercises of St. Ignatius no 23)

Bertahun-tahun aku merasa tidak ada yang istimewa dalam rumusan itu. Buatku, rumusan itu memang seharusnya demikian adanya. Kucoba menerjemahkannya, ya. Kurang lebih begini, tujuan itu diimplementasikan lewat banyak cara entah itu lewat relasi kita dengan orang lain, pekerjaan yang kita jalankan, dan dalam setiap aktivitas kita setiap hari.

Dengan kata lain ‘…memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan..’ itu terwujud ketika saya serius dan jujur menjalani pekerjaan saya, mampu mencintai orang lain, dan dalam setiap aktivitas kita menunjukkan perilaku yang jujur, tekun, setia juga adil.

Namun, jalan hidupku bergulir makin jauh, ketika aku sudah mulai mengenal pemikir-pemikir seperti Sokrates, Descartes, Emmanuel Kant, Thomas Aquino dan masih banyak lagi tokoh pemikir lain, pertanyaan berikutnya muncul menohokku. Kenapa pula Tuhan harus dipuji, disembah dan dimuliakan? Apakah Tuhan kurang pujian, kurang kemuliaan, dan kurang disembah? Rasanya kok Tuhan begitu haus pujian bila memang menuntut diperlakukan demikian.

Kurasa kemuliaan Tuhan tak akan berubah sedikitpun meski manusia melakukan upaya apa pun untuk meninggikannya. Entah dengan nyanyian, upacara puji-pujian, sikap hidup kita yang saleh dan suci atau bahkan dengan teriakan-teriakan “Pujilah Tuhan di tempat yang Maha Tinggi!!!!” ……”Allah Maha Besar!!!!!!” berkali-kali.

Kalau kita berpikir apalagi meyakini bahwa dengan begitu Tuhan menjadi mulia, menjadi penuh kuasa, menjadi terhebat, mungkin Tuhan sendiri yang memandang kita dan menyaksikan segala tingkah laku kita akan geleng-geleng kepala dan berpikir “Kasihan, bodoh sekali umatku ini!!!!”

Sebelum kita lahir, bahkan sebelum dunia ini ada, Tuhan sudah mulia. Dia sudah penuh dengan kebesaran, dari dulu, sekarang dan selama-lamanya. Tuhan tak butuh persembahan, pujian, dan kemuliaan dari manusia. Siapa sih kita ini? Manusia hanyalah debu. Bahkan mungkin lebih kecil dari debu itu sendiri atau bahkan gen bila berada di hadapan Tuhan. Manusia tiada artinya di hadapan Tuhan. Sehingga bila kita memuji, menyembah atau memuliakannya bukanlah karena Tuhan membutuhkannya.

Dan bukan pula karena kita ini ciptaan lalu harus menyembahNya, sebagai majikan kita. Rasanya Tuhan bukanlah penuntut pujian dan penyembahan. Kalau sekadar menghormati karena Dia junjungan kita, pencipta kita, tampaknya buat apa?

Sebaik apa pun hidup kita, bahkan seburuk apa pun hidup kita, tetap diberi karunia. Tuhan mencintai siapa pun meski manusia sangat jahat, keji, tak berperasaan, tak tahu malu, tamak bahkan bengis melebihi iblis. Buktinya apa? Sinar matahari masih menerangi semua orang. Udara masih bisa kita hirup dengan bebasnya. Kekayaan alam masih bisa kita rasakan bahkan mereka yang tamak pun bisa menikmati sampai keturunannya yang ketujuh bahkan lebih.

Orang yang kita anggap jahat pun bisa menikmati hidup sama nikmatnya seperti mereka yang menganggap hidupnya benar di hadapan Allah. Orang yang dianggap keji, kotor masih bisa menikmati enaknya hidup di dunia dan keturunan-keturunannya pun bisa menikmati kebahagiaan duniawi.

Tuhan itu sangat baik. Sampai Dia pun tidak akan menghukum kita serta merta saat kita berbuat jahat. Kalau memang Tuhan seperti yang kita pikirkan, yakni sebagai PENGHUKUM keji tentu saja sudah habis manusia di dunia ini. Yang pasti sudah tak ada orang yang bisa bebas dari hukuman itu. Semesta ini sudah hilang, hancur dan tak bersisa lagi.

Nyatanya, Tuhan membiarkan semua yang ada di semesta ini berjalan seperti apa adanya. Tak ada yang kurang bahkan bisa jadi malah berlebih. Manusia bahkan makin pintar. Makin banyak pengetahuannya. Kemajuan manusia, bila diperhatikan (dalam sejarah perkembangan dunia) tampak luar biasa dahsyat dan hebat. Manusia betul-betul telah menunjukkan bahwa dirinya juga bisa menciptakan SEPERTI juga TUHAN mencipta. Luar biasa bukan?

Menunggu Mati
Nah, terbukti bahwa Tuhan bukanlah penghukum yang keji. Kalau kita yakin bahwa Dia akan menghukum kita setelah kita mati, pertanyaannya “kenapa harus menunggu mati? Kenapa pula harus menunggu kita berada di dunia lain atau akhirat?

Tuhan, tentu saja, dengan kuasaNya bisa langsung menghukum dan menghancurkan manusia sekarang juga, seketika saat manusia berbuat keji. Tuhan tentu saja tidak mau menghabiskan waktu atau mengulur-ulur waktu menunggu manusia bejat menjadi makin bejat dan lupa daratan. Tuhan akan langsung menghabisi manusia tanpa pandang bulu. Itu kalau Tuhan adalah tukang jagal!

Lalu kalau begitu, untuk apa kita menyembah, memuji dan memuliakan Tuhan?

Dalam permenungan yang panjang dan dalam pergulatan batin yang tidak mudah, aku menyadari sepenuhnya bahwa sikap sembah dan pujian yang kita lantunkan dan kita sampaikan pada Tuhan sebenarnya bukan untuk Tuhan.

Demi Manusia
Kalau agama atau para suci menyatakan “…kita harus menyembah, memuji dan memuliakan Tuhan..” itu artinya semua itu semata demi diri kita sendiri. Pujian kepada Tuhan dalam bentuk bakti terhadap orangtua, pekerjaan, bangsa dan negara, dan sesama serta alam lingkungan kita, ditujukan demi keselamatan dan kebaikan kita sendiri.

Seperti sebuah wadah yang berada dalam pancuran yang terus menerus mengalir, wadah itu tak akan bisa diisi terus menerus bila tidak kita tuang. Demikian juga cinta Tuhan. Pujian dan bakti kita, yang sebenarnya hanya bisa kita lakukan karena rahmat Tuhan (dan dalam hal ini diibaratkan sebagai air yang mengalir dalam wadah – manusia adalah wadahnya) harus kita berikan kembali kepada pemiliknya, kepada wadah-wadah lain juga agar wadah ini (hidup kita) tetap teraliri air itu.

Dalam banyak penelitian ilmiah yang dilakukan para ilmuwan, terbukti bahwa pujian kita kepada Tuhan dengan ‘memberi dukungan pada orang lain’, ‘mencintai orang lain’, ‘memaafkan orang lain’, ‘jujur terhadap diri sendiri dan orang lain’ dan masih banyak lagi justru membuat hidup kita makin sehat (jasmani dan rohani). Singkatnya, penelitian membuktikan bahwa kasih sayang atau yang sering disebut sebagai dukungan sosial sangat penting untuk membuat kita tetap sehat.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan atas 7.000 penduduk Alameda County di California, Amerika Serikat mereka yang memiliki banyak kontak sosial tetapi masih merasa kesepian (tidak mampu menerima kasih sayang) memiliki risiko 2,4 kali lebih besar menderita kanker yang terkait dengan hormon dibandingkan dengan mereka yang merasa terkoneksi atau terhubung dengan orang lain dan mampu menerima dan memberi kasih sayang. Mereka yang kurang mempunyai kontak sosial dan merasa terisolasi memiliki risiko lima kali lebih besar atau berpeluang meninggal  lebih besar karena kanker.

Sistem kekebalan tubuh kita sangat peka dengan perasaan kesepian. Sehingga saat kita merasa tidak disayang atau bisa menyayangi orang lain ada mekanisme dalam tubuh yang terjadi mempengaruhi sel-sel tubuh. Demikian juga dengan sikap-sikap negatif yang kerapkali bisa muncul seperti marah, agresif. Semua itu akan memengaruhi atau menurunkan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya kita akan mudah sakit jantung.

Ahli jantung redford Williams dan istrinya Virginia Williams yang adalah seorang terapis kesehatan menulis dengan bagus dalam buku berjudul Anger Kills. Bertahun-tahun lamanya mereka melakukan penelitian dengan cermat di Duke University Medical Shool yang hasilnya mengatakan bahwa bagian yang mengandung racun dari sindroma Tipe-A bukanlah perfeksionisme, tekanan waktu atau mengerjakan banyak hal pada saat yang sama, melainkan sikap sinis karena marah, sikap bermusuhan dan sikap senang menghakimi.

Bukti-bukti lain rasanya tak perlu saya sampaikan lagi. Anda pasti bosan karenanya. Yang jelas, selain secara fisik menjadi sehat, tentu saja jiwa kita akan menjadi tumbuh dan berkembang karenanya. Kebahagiaan abadi yang bisa kita rasakan saat kita sudah mati secara fisik sudah bisa kita rasakan dari sekarang.

Coba kita periksa dalam batin kita masing-masing; apakah yang kita rasakan setelah kita bisa memaafkan orang lain yang berbuat salah kepada kita? apakah yang kita rasakan setelah kita bisa membantu orang lain yang kesulitan? apa yang kita rasakan bila kita berani bicara dan berbuat jujur, adil dan tidak tamak?

Gambaran sederhana tampak ketika kita menyanyikan lagu-lagu rohani, bersembahyang dengan kusuk, membuat puisi dan lain sebagainya. Rasa bahagia, senang yang lebih dari sekedar senang akan menyelimuti hati kita. Energi kehidupan, energi dari Tuhan, semesta sendiri  akan mengalir ketika kita mencipta, mencinta atau menolong dan mendukung orang lain dengan suatu cara.
Tuhan memberkati.
Amin.
sumber: sesawi.net

Minggu, April 09, 2017

AGAMA YANG BENAR (2)

Aneh, saya kok jadi penasaran dengan agama yang benar dan agama yang tidak benar atau agama yang salah. Padahal saya sudah sampai pada keyakinan bahwa tidak ada agama yang benar dan agama yang salah. Yang ada adalah agama yang lebih benar dan agama yang kurang benar. Karena semua agama pasti memiliki kebenarannya masing-masing.

Agama yang lebih benar adalah agama yang yang menyejarah. Dan sejarah itu tertulis dalam kitab sucinya. Mulai dari kisah penciptaan, bagaimana Tuhan mencipta, bagaimana manusia ciptaannya itu tidak menuruti perintah dari Sang Pencipta. Sampai sebuah agama itu lahir.

Bagaimana manusia berdosa itu tetap dikasihi Tuhan Allah. Bagaimana cara Tuhan mengasihi manusia, dan bagaimana manusia menanggapinya. Bagaimana Tuhan mengirimkan para nabi, agar manusia kembali pada jalan kasih yang dikehendaki-Nya. Kalau manusia tidak paham akan kasih Allah itu, bagaimana ia dapat mengasihi sesamanya. Pastilah hanya kebencian belaka yang akan timbul dari dalam diri manusia itu.

Dengarlah sejarah. Para nabi mengatakan apa, dan kenyataan setelah beratus-ratus tahun kemudian seperti apa dan bagaimana. Agama yang lebih benar adalah agama yang runtut dengan alur sejarah umat manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan manusia lainnya. Bukan secara tiba-tiba agama itu tercipta begitu saja.

Agama yang lebih benar bukan hanya sekedar mengakui adanya kitab-kitab suci sebelumnya, tetapi sekaligus juga mengakomodasikan kitab-kitab pendahulunya di dalam kitab sucinya. Dengan demikian akan nampak alur sejarah lahirnya agama tersebut melalui perjalanan iman umat manusia.

Kesimpulan saya adalah agama yang lebih benar adalah agama yang dapat membawa umatnya kepada kebaikan universal. Tuhan dalam agama yang lebih benar adalah Tuhan yang dapat dialami oleh penganutnya, karena Tuhan Allah selalu dekat dengan umatnya. Bukan Tuhan yang jauh dan menjauh dari ciptaan-Nya, tetapi Tuhan yang mengasihi ciptaan-Nya, Tuhan yang masuk dalam pengalaman umat manusia, dan karena itu sangat membahagiakan umat-Nya. Kebahagiaan manusia karena relasi yang intim dengan Tuhan itu membawa kedamain hati, kedamaian dengan sesama dan seluruh ciptaan-Nya tanpa kecuali!

Minggu, Maret 26, 2017

Melihat Hati

Karena renungan dari Rm Bayu ini bagus, maka saya arsipkan dalam blog ini,
Mohon maaf Romo, karena saya tidak memohon ijin terlebih dahulu...

Catatan Minggu, 26 Maret 2017
HARI MINGGU PRAPASKAH IV
Injil: Yohanes 9:1-41


Syalom aleikhem.
 
Saya melihat apa yang tampak, dan saya keliru. Ini pengalaman saya waktu merayakan Misa perdana di rumah orangtua di Kalasan. Setelah Misa, umat menyalami saya. Tibalah giliran seorang bapak 50-an yang tak saya kenal. Agak kumuh bapak itu. Saya terima jabat tangannya dengan sedikit cuek. Saya tak kenal, kumuh pula dia! Ayah saya berbisik, “Itu pastor paroki kita.” Oh my God! Romo! Saya telah salah. Saya hanya memandang kulit luar. Dan saya menyesal. Sejak hari itu saya berjanji dalam hati tidak akan berbuat demikian lagi.
 
Orang cenderung melihat hanya apa yang tampak. Ternyata sikap seperti itu terbukti sering keliru. Contoh: (1) saya, (2) orang Farisi, (3) Samuel. Kisah saya sudah anda dengar. Orang Farisi dalam Bacaan Injil melihat hanya yang tampak. Pandangan mereka meleset. Mereka gagal mengenali Sang Penyelamat. Demikian juga Samuel dalam Bacaan Pertama. Ia melihat kulit, bukan hati. Dan ia salah pilih. Ada contoh lain yang saya dengar sendiri. Ini kisah nyata seorang umat. Ia karyawan baru. Suatu pagi ada orang duduk di kursi kerjanya. Ia langsung marah-marah. Ternyata yang duduk itu pemilik perusahaan. Besoknya si karyawan pensiun dini.
Manusia melihat apa yang tampak, melihat kulit. Tuhan lain, Ia melihat hati. Itulah cara kerja Tuhan. Kita diajari mengikuti cara kerja Tuhan. Mari kita melihat hati, bukan melihat kulit. Mari memandang sesama kita dengan “adil”. Artinya, tidak merendahkan sesama dalam pikiran dan hati. Orang beriman tak akan menilai sesamanya hanya dari apa yang tampak. Dasarnya ini: jangan-jangan Tuhan berbicara sesuatu kepada kita lewat sesama yang tampaknya kumuh, cacat, jijay, dsb.

Dari Injil kita tahu, Tuhan memakai si pengemis buta untuk memperkenalkan Sang Juruselamat. Namun, para Farisi tidak mampu melihat hati. Mereka hanya melihat kulit. “Siapa sih lo? Orang berdosa ngajarin kita!” kata mereka. Dan selanjutnya mereka gagal memperoleh keselamatan.
 

Tuhan menyapa kita lewat aneka peristiwa dalam hidup. Kalau kita salah melihat, petunjuk Tuhan lewat, dan kita kehilangan keselamatan, kita gagal mengenali cinta Tuhan. Orang Farisi gagal mengenali Yesus. Saya juga pernah gagal. Sejak itu, saya memperbaiki diri. Bagaimana dengan Anda?

Rev. D. Y. Istimoer Bayu Ajie
Pembaca Alkitab

Senin, Maret 13, 2017

AGAMA YANG BENAR (1)


Selama hidupnya, manusia (mungkin terutama manusia di negaraku Indonesia), telah mencapai 1000% dalam upaya dan usaha membenarkan agamanya sendiri. Agamaku paling benar, dan agama lain itu salah, atau tidak benar. Tiap detik, menit, jam dan hari hanya membicarakan bahwa agamaku adalah agama yang paling benar. Benar-benar sudah over-dosis.

Lalu aku merenung, apakah ada agama yang benar, yang berarti ada agama yang salah? Menurut permenunganku, semua agama memiliki kebenarannya masing-masing. Mungkin agama ini lebih benar dan agama itu kurang benar dari sisi-sisi tertentu.

Agama-agama itu memiliki keyakinan akan Tuhan Allah. Yaitu Allah yang dibahasakan manusia. Apakah bahasa manusia itu mumpuni untuk Allah, pasti tidak. Bahasa manusia itu tidak sempurna, karena manusianya tidak sempurna. Bagaimana mungkin manusia yang serba terbatas ini akan membahasakan Tuhan yang maha sempurna, yang tidak terbatas?

Agama boleh mengklaim tentang wahyu Allah. Apakah Allah dalam mewahyukan diri-Nya menggunakan bahasa-Nya sendiri, bahasa Allah? Dalam mewahyukan diri kepada manusia, Allah pasti menggunakan bahasa manusia, supaya manusia dapat mengerti. Akan tetapi oleh karena bahasa manusia itu terbatas, maka tidak mungkin manusia menangkap realitas Allah seutuhnya, 100%! Tidak mungkin Allah mewahyukan realitas seutuhnya dari diri-Nya dengan hanya melalui bahasa manusia?

Jadi, bolehkah manusia menyombongkan diri memiliki agama yang benar dan menyalahkan manusia lain sebagai pemeluk agama yang tidak benar? Tentu saja tidak boleh! Manusia hanya bisa menangkap sebagian kecil dari realitas Allah.

Kesimpulanku sementara adalah, agama yang lebih benar (bukan agama yang benar) adalah agama yang mampu menangkap lebih banyak wahyu Allah melalui pengalaman dirinya dalam hubungannya dengan Allah di dalam sejarah manusia itu sendiri. Kebenaran agama tidak dapat dibuktikan, tapi dialami. Ia berhubungan erat dengan pengalaman. Pengalaman iman persisnya.

Pengalaman itu adalah pengalaman manusia, terutama dalam hubungannya dengan manusia lain dan dengan Allah. Bagaimana manusia bisa mengalami Allah, padahal Allah itu tak terbatas? Pewahyuan diri Allah hanya bisa ditangkap dengan jelas (tidak bisa seutuhnya!) bila Ia sendiri hadir di tengah-tengah umat-Nya!

Nah, lo….

Senin, Februari 27, 2017

Tuhan, Ini Owe, A Cong...


Cerita ini saya save dari sebuah email di tahun 2013. Saya lupa email dari siapa di milis apa:
Ini sebuah kisah nyata yang menarik dan menyentuh. Ada seorang laki-laki paruh baya, umur 50 tahunan. Ia dipanggil A Cong (Ah Chong, ejaan inggrisnya). Miskin, tetapi jujur dan tekun. Kejujuran dan ketekunan itu mendapat perhatian seorang pemilik toko material di daerah Glodok, Pinangsia, Jakarta. A Cong diangkat menjadi CEO (chief exec.officer) atau penanggung jawab penuh toko tersebut. Usaha material itu meraup sukses luar biasa.

Sedemikian sibuknya A Cong di toko itu melayani pembeli, sampai ia tak sempat makan dengan teratur. Bahkan tidak jarang ia makan sambil tetap melayani. Tetapi, di tengah kesibukannya, setiap jam 12 siang ia menyempatkan diri berlari ke sebuah gereja di dekat situ. Dan itu ia lakukan tiap hari, sudah lebih dari tiga setengah tahun.

Sampai pada suatu hari kecurigaan seorang pastor memuncak ... ! Ia telah memperhatikan dan mengamati fenomena aneh ini di gerejanya. A Cong datang di pintu gereja, hanya berdiri saja, membuat tanda salib, lalu segera bablas lagi.

Ritual itu setia dilakukan A Cong, tiap-tiap hari, itu-itu saja.
Adakah udang dibalik batu ??? Jangan-jangan ..... Romo yang penasaran itu mencari
kesempatan menghadang si A Cong, dan bertanya tanpa basa-basi lagi

Kata Romo : “maaf, Cek (panggilan menghormat bagi laki-laki Tionghoa), kenapa Encek
saben hari datang jam 12 begini, cuman berdiri saja di pintu, bikin tanda salib, terus cepet-cepet pergi lagi?”
Kaget, si A Cong menjawab tersipu : "Hah?!... Lomo.., owe ini olang sibuk, owe punya waktu seliki, tapi owe seneng dateng kemali."
Jelas, Romo belum puas dan terus mendesak : “Emangnya apa yang Encek lakukan di pintu gereja gitu ?"
Jawab A Cong dengan polos : "Ngga ada apa-apa, benel Owe cuman bilang ini doang : Tuhan Yesus, ini owe, A Cong. Uuudah ."
Terbengong, hanya "Oh....!" yang bisa dilontarkan sang Romo. Dan A Cong pun bergegas kembali ke tokonya.

Pada suatu hari A Cong sakit parah karena super sibuk dan makan sekenanya, tidak teratur. Komplikasi penyakitnya cukup berat sehingga ia dilarikan ke rumah sakit.
A Cong bukan orang kaya, maka ia menempati kamar kelas 3, satu kamar dihuni 8 orang pasien. Sejak masuknya A Cong, kamar itu menjadi ceria, penuh canda tawa.Tak terasa 3 bulan sudah A Cong dirawat. Ia pun sembuh dan diperbolehkan pulang.

Ia gembira, tentunya, tetapi teman2 sekamarnya bersedih. Selama dirawat itu, semua sesama pasien dihiburnya. A Cong setiap pagi menghampiri teman-teman pasiennya, satu per satu, dan menanyakan keadaan masing2. Sayang, sekarang A Cong harus pulang dan kamar itu akan kembali sunyi.

Akhirnya salah seorang sesama pasien mencoba bertanya: "Eh Cek A Cong, mau nanya nih. Kenapa sih Encek begitu gembira, dan selalu gembira, padahal penyakit Encek 'kan serius ?"

Acong tercenung dan menjawab : "Saben ali yam lua welas, yah, ada olang laki lambut gondlong dateng, megang kaki saya, dia bilang: A Cong, ini aku, Yesus Klistus. Gimana owe nggak seneng, coba..."

Moral of the story :
Sesibuk-sibuknya kita, sisihkan waktumu, untuk bersama Tuhan

 

Kamis, Februari 23, 2017

JUMAT KLIWON



Pada hari ini, Kamis malam Jumat Kliwon, tiba-tiba aku ingat pada seorang teman yang hari lahirnya pada hari Jumat Kliwon. Maka tepat pada hari kelahirannya, aku ingin menuliskan beberapa hal, sbb.:

1.   Sesuai garis-garis dan perhitungan hari, ia termasuk orang yang pemberani. Tak pernah punya rasa takut pada apapun juga, termasuk resiko paling buruk akibat tindakannya sendiri. Ia tak pernah takut pada ancaman seserius apapun juga, dari siapapun juga, dan dari manapun juga.

2.   Ia kuat memegang prinsip. Tak tergoyahkan, bahkan terhadap badai sekalipun. Di wajah dan kulit luar ia tegar. Orang-orang di sekitarnya dibuat tak berkutik, mereka tidak berani menatap matanya. Maka tak jarang mereka mengancam ingin menikamnya dari belakang. Ia memiliki sepasang mata di balik wajahnya, sehingga selalu mengetahui terlebih dahulu rencana jahat orang-orang di sekitarnya.

3.   Namun jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sebenarnya seorang pemaaf. Ia suka mengampuni kesalahan tetangga, bahkan sebelum itu diminta. Ia juga sering mengelus dada karena ia sendiri terheran-heran pada dirinya. Ia ngotot merealisasi komitmen yang dibuatnya, namun sering kandas oleh egonya sendiri. Sebenarnya pula ia geregetan terhadap diri sendiri.

4.   Bila ia terbuka pada seorang yang dikiranya sahabat, ternyata mereka itu hanya akan mengeruk keuntungan mereka sendiri terhadapnya. Maka ia tampak selalu ragu-ragu menentukan seorang sahabat. Ia lalu sering mengasihani diri sendiri. Mencoba memaafkan diri sendiri.

5.   Hidupnya menarik siapa saja yang sempat bergaul dengannya.



Aku doakan semoga ia bahagia…..

Rabu, Februari 08, 2017

Sabda Bahagia Mt. 5: 3-9



1.     Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
2.     Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
3.     Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
4.     Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5.     Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
6.     Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
7.     Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
8.     Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
9.     Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Menjadi bahagia itu ternyata tidak mudah. Harus menderita terlebih dahulu, baru mendapatkan kebahagiaan. Tetapi memang realitasnya demikian. Tidak mudah mencapai rasa bahagia itu.

Banyak pendapat bahwa kebahagiaan itu didapat apabila orang tidak memiliki masalah. Apakah benar demikian? Saya rasa tidak! Banyak orang memiliki harta berlimpah, akan tetapi mereka tidak hidup bahagia. Mereka tetap memiliki masalah juga.   

Jadi, kita memang harus dtuntun untuk melihat sabda bahagia di atas.

Sabda pertama sampai ke delapan ditujukan kepada orang ke tiga, “berbahagialah orang….”. Sabda itu ditujukan kepada kita umat manusia. Sedangkan sabda ke sembilan ditujukan kepada orang kedua, khusus kepada “kamu” murid-murid-Nya.

Beruntung bagi “kamu-kamu”, karena menerima sabda yang ke sembilan, yang tentu secara otomatis menerima sabda-sabda yang lain, karena “kamu” termasuk orang! Hehe….

Tidak ada jalan lain untuk mencapai kebahagiaan absolut, yang kekal-abadi, kecuali menjadi murid-Nya. Tidak ada jalan lain!