Sabtu, Desember 20, 2008

TUNJANGAN KESEHATAN


Pada hari Jumat, 5 Desember 2008 (menjelang hari raya Iedul Adha), saya membaca bahan presentasi rapat, yang isinya antara lain tentang PERUBAHAN SYSTEM TUNJANGAN PEMELIHARAAN KESEHATAN.

Mudah-mudahan saya tidak salah mengingat:

  1. mulai Januari 2009, seluruh pegawai tetap diberi tunjangan kesehatan sebesar Rp. 300.000,- per bulan, dibayarkan bersamaan dengan penerimaan gaji, dipotong pajak.
  2. Jumlah istri (mungkin mulai Januari 2009 diperbolehkan beristri lebih dari seorang) dan jumlah anak tidak diperhitungkan.


Alasan Perubahan:

  1. System yang lalu dinilai rumit
  2. Pegawai yang sehat tidak diuntungkan
  3. Banyak kejadian yang tidak menyenangkan di Biro Kepegawaian


Mudah-mudahan perubahan ini tidak jadi dilaksanakan, karena

  1. Cukup atau tidak cukup pegawai sudah diberi tunjangan Rp. 300.000,- per bulan, kasihan bagi pegawai yang memiliki penyakit yang biaya berobatnya di atas Rp. 300.000,- per bulannya
  2. Berapapun jumlah anak maupun jumlah istri tidak diperhitungkan
  3. Seseorang yang sakit harus memiliki uang sendiri untuk berobat, diharapkan dari tunjangan tsb.
  4. Seseorang yang tidak memiliki uang sendiri, tidak akan bisa berobat tanpa surat pengantar
  5. Akan banyak pegawai dan keluarganya yang tidak mampu berobat, akibatnya banyak dari mereka yang tidak tertolong dengan cepat
  6. Banyak karyawan yang menganggap tunjangan itu sebagai kenaikan gaji, mungkin lebih2 akan diijonkan terlebih dahulu.
  7. Alih-alih menaikkan pendapatan melalui gaji, malah justru semakin menyengsarakan karyawan terutama golongan I dan II
  8. Yang diharapkan karyawan adalah naiknya plafon pengobatan, bukan merubah sistem yang selama ini sudah baik.
  9. Tidak ada ketenangan sewaktu karyawan/keluarganya sakit, karena harus merogoh koceknya sendiri. Selama ini ada ketenangan karena cukup membawa surat pengantar.

Minggu, Desember 07, 2008

TINGGINYA AROGANSI 2


Tingginya Arogansi 2 tiba-tiba saja ingin aku tuliskan.

Betapa tidak! Karena semakin tinggi arogansi seseorang, sebenarnya semakin NOL nilai kemanusiaannya!


Setiap orang memiliki sifat ini, cuma kadar tinggi-rendahnya berbeda. Biasanya orang yang merasa bahwa dirinya “punya”, ia menjadi sombong, atau menyombongkan diri, atau memamerkan bahwa dirinya “punya”. Dan semakin merasa bahwa ke-”punya”-annya itu besar, atau banyak, ia menjadi lebih sombong, atau lebih menyombongkan diri, atau lebih pamer. Itulah yang aku maksud sebagai kadar tinggi-rendahnya arogansi.


Temanku yang memiliki arogansi tinggi itu ternyata karena ia merasa “punya”, padahal itu hanya perasaannya saja. Banyak orang lain (bukan hanya aku) melihat, bahwa yang “punya” itu adalah isteri dan anaknya. Memang isteri dan anaknya menjadi “punya” sedikit-banyak karena dirinya. Tetapi sebenarnya ia tak “punya” apa-apa. Orang menjadi iba melihat dirinya. Ia kosong melompong.


Dosen yang tinggi sekali arogansinya itu juga karena ia merasa “punya” banyak. Padahal ia tak “punya” apa-apa. Yang “punya” adalah institusinya, Unpar. Dia menjadi dosen yang dikenal dan laku di beberapa universitas lain karena ia lulus dan menjadi dosen tetap di Unpar. Bayangkan kalau dia menjadi lulusan dan dosen tetap Uninus, misalnya. Apakah ia bisa setenar ini? Atau bila ia sama sekali tidak mengajar di Unpar, masihkan ia dapat menyombongkan diri di sini?


Unpar memiliki gengsi dan arogansi tinggi juga karena merasa “punya” banyak. Tetapi ia lupa bahwa “punya”-nya itu karena telah dipunguti oleh para founding-father dari tahun 1955. Setelah para pendiri tiada, masihkah sesuatu dipunguti? Mengapa ia sekarang menjadi sombong? Jangan-jangan karena sekarang Unpar telah tidak “punya” apa-apa lagi, kecuali kesombongan. Ke-”punya”-annya itu tetap dari sejak dulu, dan tidak bertambah dari waktu ke waktu, sehingga ditinggalkan oleh universitas lain yang lebih “punya” sesuatu. Ia menjadi bagaikan katak dalam tempurung.


Ada lagi saudaraku yang merasa “punya” segalanya. Ia merasa “punya” hak banyak, sebagai anak, sebagai kakak, sebagai adik, sebagai laki-laki, sebagai ayah, sebagai suami, sebagai yang lain-lain. Ia juga merasa “punya” sesuatu. Ia merasa “punya” uang, rumah, kendaraan, fasilitas. Dan semua perasaan “punya” itu disombong-sombongkan. Ia menjadi angkuh. Tetapi sebenarnya ia tak “punya”apa-apa. Yang “punya” adalah saudara-saudaranya, isterinya, orang-tuanya. Ketika ia menyombongkan diri, saudara-saudarinya melihat sebagai bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Semakin ia congkak, bersamaan dengan itu ia semakin rendah dan nilainya di bawah NOL. Aku sangat kasihan padanya.


Orang-orang yang memiliki arogansi tinggi menolak realitas. Mereka tidak mampu melihat dirinya. Ia tidak mampu melihat dunianya. Tanpa disadari, ia menjadi orang lain yang “punya”. Ia tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Ia kehilangan diri. Ia tidak ngrumangsani. Dan orang lain mengelus dada, iba melihatnya.


Salam


Jumat, Desember 05, 2008

POLICY OF NO POLICY


Email ini aku pasang di Isna@ry-Blog

karena memiliki kekuatan pada judulnya: POLICY OF NO POLICY

kelihatannya ada tapi tidak ada...

Terima kasih kepada Bu Elly, Pak Ishak dan Pak Hariono

Ibu-Bapak telah membuka mata saya

bahwa memang begitulah adanya

tanpa ditambah ataupun dikurangi

semua menyadari realita ini:

policy of no policy.


salam


From: A.F. Elly Erawaty

To: unpar3@warnet.unpar.ac.id

Subject: [unpar3] kegiatan di pelataran GSG berisik

Sent: Dec 2, 2008 10:53


Kepada Pejabat yang berwenang di Unpar,


Tolong disimak ya, kegiatan promosi suatu produk yang dilakukan di pelataran terbukayang menghubungkan GSG dengan FH, sejak kemarin benar-benar mengganggu perkuliahan di FH.

Persoalannya, kegiatan itu menggunakan pengeras suara dengan volume tinggi sementara dosen di kelas yang hanya berjarak kurang dari 10 meter berteriak dengan mulut biasa!


Apakah tidak ada cara yang beradab?


Ini email saya, dibilang mendiskreditkan lagi kebijakan Pimpinan Unpar silahkan!!

Dibilang saya tidak ada kerjaan karena selalu nulis di milis ini, silahkan!

Yang jelas, saya punya tanggungjawab kepada mahasiswa saya yang sudah bayar SPP mahal untuk bayar gaji saya untuk memberikan kuliah semaksimal mungkin dan bermutu.

Kewajiban itu sangat terganggu karena adanya ijin kegiatan promosi seperti itu.


Elly

FH


Date: Tue, 2 Dec 2008 03:55:03 +0000

From: ishak@home.unpar.ac.id

Subject: Re: [unpar3] kegiatan di pelataran GSG berisik


Dilema bagi kampus yang spacenya pas-pasan,

overcrowded tidak bisa dihindarkan,

kegiatan kreativitas harus jalan, kegiatan akademik harus jalan,

sudah kebayang kalau taman dilantai atas ada pertunjukan the slank

kuliah terpaksa dibubarkan di gedung 9,

terima saja bu ini gambaran potret kita bersama policy of no policy ........


Date: Tue, 2 Dec 2008 14:52:02 +0700 (WIT)

From: Hariono Kusumohamidjojo

Subject: Re: [unpar3] kegiatan di pelataran GSG berisik


Betul kata pemeo :

Kita merencana kegiatan yang tidak akan dikerjakan

tetapi mengerjakan yang tidak pernah direncana


Saya sebut kita - lho, bukan kami atau anda .........


Senin, Desember 01, 2008

TINGGINYA AROGANSI


Mudah-mudahan ini hanya terjadi di lingkungan universitas yang konon katanya merupakan universitas tersohor: Universitas Katolik Parahyangan. Inilah universias katolik tertua di Indonesia. Sebagai universitas tertua dan memiliki nama harum di dalam maupun di luar negeri, Unpar juga memiliki (mungkin juga kaya) akan kesombongan!

Tingginya arogansi ini dimiliki oleh para dosennya. Siapa korbannya kalau bukan para mahasiswanya sendiri! Saya sudah lama mengamati hal ini. Semenjak saya bekerja di Unpar pada tahun 1981, saya sudah sering melihat kenyataan ini.

Pemberian tugas kepada mahasiswa adalah wajar, ada nilainya. Tetapi pemberian tugas itu sering mengada-ada. Bahan tugas yang harus dikumpulkan dua-tiga hari lagi itu harus dari sebuah jurnal yang hanya terbit di UGM, Jogyakarta, tidak ada di Bandung!

Ada pula tugas yang harus dikerjakan dalam bahasa Inggris, ini bagus sekali. Akan tetapi menjadi aneh ketika si mahasiswa yang pandai berbahasa Inggris karena SMA-nya dari luar negeri, dinilai NOL hanya karena dosennya tidak mengerti.

Ada dosen yang marah ketika mahasiswanya diam tidak mau bertanya di kelas. Tetapi lebih marah lagi bila ada pertanyaan dari mahasiswanya. Atau dosen marah sepanjang 2 sks, hanya karena ada mahasiswa yang bicara sepatah-dua patah kata dengan teman sebelahnya.

Jarang terjadi mahasiswa lulus dalam satu kali tempuh. Biasaya setelah mengulang dua atau tiga semester, mahasiswa baru bisa lulus. Itu juga harus puas dengan nilai C atau D. Ada juga dosen yang baru meluluskan sekelompok mahasiswa setelah menerima hadiah. Dosen ini hanya satu dua orang, tetapi gaungnya bisa meliputi seluruh universitas.

Seorang mahasiswa menangis, karena tidak bisa menempuh ujian susulan, walaupun ada surat bukti opname dari rumah sakit dan ada surat rekomendasi dari dekan. Mahasiswa tersebut tinggal menempuh satu mata kuliah itu, dan skripsipun telah beres.

“Jangan minta nilai ujian kepada dosen itu, walaupun ujiannya sudah semester yang lalu, karena nilainya pasti C”. Kata aktivis mahasiswa. Kalau mau sabar sampai dosennya sendiri mengeluarkan nilai, walaupun sudah terlambat 2 semester, nilainya bisa A.

Ada seorang Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) yang dengan gigih dan tanpa bosan-bosannya menghimbau para dosen agar tidak terlalu pelit memberi nilai kepada para mahasiswanya, agar alumni Unpar tidak kalah bersaing di masyarakat. Namun masih banyak alumni Unpar yang nilai beberapa matakuliahnya B, untuk nilai 79 koma sekian. Bahkan ada yang sangat keterlaluan dengan nilai 79,6 tetapi hanya B. Ada banyak alumni yang memiliki lebih dari lima matakuliah dengan nasib seperti itu! (Bayangkan apabila dosen cukup membantu mahasiswanya, IPK alumni ini bisa banyak tertolong).

Mengapa terjadi demikian? Itu karena kesombongan. Saya dosen, berkuasa atas mahasiswa! Mau terima silakan, tidak mau terima silakan. Itu policy saya yang tidak bisa diganggu gugat! Malahan ada seorang dosen yang mengatakan:”...tidak mengajar di Unpar juga tidak kelaparan dan mati!...”

Jika Unpar mau berbenah dan mulai kembali dengan “customer satisfaction”-nya, dosen-dosen seperti itu harus segera “diurus”. Kalau tidak Unpar akan segera ditinggalkan oleh masyarakatnya!