Sabtu, April 14, 2012

Belinyu


Di sanalah kepribadianku dibentuk. Sebagai pemuda ingusan dari kampung, kami berempat ditugaskan untuk mengajar di Pulau Bangka. Dua temanku di wilayah Pangkalpinang, dan aku beserta seorang teman, Giri Kuwata, ditempatkan di kota Belinyu, kota kecil di Bangka Utara.


Saat itu, bulan Januari 1975, untuk pertama kalinya aku mengajar di Santa Agnes. Di bawah bimbingan seseorang yang di kemudian hari aku anggap sebagai kakakku sendiri, Pak Sugriwanto, aku menjadi seorang guru yang baik.

Tak seharipun kami lewatkan untuk berdiskusi, sharing tentang hidup dan kehidupan bersama Pak Sugriwanto. Seringkali kami sharing di atas makam Sr. Ignata dari sore sampai pagi hari. Lambat laun kemanusiaan kamipun tergodok dan tertempa melalui hal-hal kecil yang kami alami dalam hidup sehari-hari.

Pada waktu umurku belum dua puluh, aku sudah mengurus semua keperluanku sendiri. Dari urusan pakaian yang kupakai untuk mengajar, sampai soal makan. Belum lagi pekerjaan rutin sebagai seorang guru yang harus mempersiapkan diri untuk mengajar, mengoreksi pekerjaan murid-murid dlsb.

Aku juga mengurusi anak-anak misdinar. Sebelumnya mereka tak ‘terwadahi’. Mereka langsung menerima perintah dari Pastor Paroki, yang notabene sudah tua. Tak jarang mereka bertugas karena takut. Aku sekedar membantu pastor untuk mengkoordinasi mereka. Membuat tugas harian, mingguan dan latihan untuk hari-hari raya, mengajak mereka rekreasi dan bermain.

Di luar jam mengajar, masih bersama Pak Sugri (demikian aku memanggilnya), kami bekerja sebagai tenaga lepas pada sebuah asuransi jiwa yang sudah tua. Kami menikmati itu, sering kali kami harus naik perahu kecil satu sampai dua jam menuju satu kota untuk menyampaikan kuitansi premi asuransi kepada para nasabah.

Dari situlah kerpibadianku tumbuh. Aku yang sekarang ini, sebenarnya dibentuk dan ditempa oleh kehidupanku pada tiga puluh lima tahun yang lalu. Untuk itu aku bersyukur boleh mengalami hal-hal itu semua….


Sabtu, Maret 31, 2012

Gua Maria Pelindung Segala Bangsa

Setelah 36 tahun kutinggalkan, akhirnya aku bisa melihat kembali kota Belinyu, sebuah kota kecil di Pulau Bangka Bagian Utara. Kota itu hanya kota kecamatan, tetapi menjadi ‘ramai’ karena ada pelabuhan di sana.

Pada bulan Januari 1975 aku mulai mengajar di SD. St. Agnes di kota Belinyu ini. Pada saat itu Belinyu adalah kota yang sepi. Sampai akhir 1976, Belinyu kutinggalkan untuk melanjutkan perantauan dan pencarian di kota Bandung, Jawa Barat.

Aku sangat bersyukur karena pada hari Sabtu, 24 Maret 2012, aku dapat berkunjung kembali di kota Belinyu. Walaupun hanya sebentar, tetapi seluruh bayangan, walau samar-samar, tercipta kembali.

Syukur tak terhingga kepada Bunda Maria, Pelindung Segala Bangsa, yang pasti telah menuntunku kembali ke Belinyu. Betapa tidak. Jika di sana tidak bertahta Bunda Maria dalam sebuah Gua yang sangat bagus, di tengah pelataran dan taman yang terawat rapih, aku mungkin takkan pernah sampai sana.

Terima kasih, O Bunda Kudus...

Setelah doa Jalan Salib dan doa pribadi, baik di Gua maupun di Bilik Hening, kami bertujuh menikmati Bakmi Pelangi Belinyu. Dari situ kami meluncur ke Pelabuhan, sekedar menghidupkan kenangan yang telah memudar, samar-samar.

Mobil meluncur ke arah Pangkalpinang melewati Hotel Citra di Jl. Jendal Sudirman Sungailiat, tempat kami menginap malam sebelumnya. Istirahat sejenak di Raja Laut untuk menyantap sabu, kami langsung ke Pantai Matras, Pantai Rebo, Shaolin Temple dan terakhir mengunjungi Tempat Ibadah Dewi Kuan Yin.

Sampai Hotel Puri di Pangkalpinang sudah jam 20.00 lebih, tidak kuat lagi keluar selain istirahat total di sana.

Setelah mengikuti ekaristi di Katedral jam 08.00, pada hari minggu itu kami mencari-cari yang aneh di Pangkalpinang. Sempat beli jajanan pasar, kue-kue basah, dan akhirnya kami sampai pada pusat oleh-oleh dari Bangka.

Tanpa terasa, kami sudah harus sampai Bandara Dipati Amir.
Selamat tinggal Pak Endang, guide kami selama di Bangka.
Selamat tinggal Pangkalpinang, Sungailiat dan Belinyu.
Selamat tinggal kenangan.


Jumat, Desember 23, 2011

BAPAK ~ ANAK


Pa,

Kenapa sih memaksakan diri hari ini kerja,

ini h-1 natal lho Pa?

Sejak saya kecil, Papa mengajari kami

untuk meluangkan waktu paling tidak h-1

untuk mempersiapkan natal dgn keluarga

kenapa sih Papa memaksakan diri bekerja hari ini?

Kalau memang tidak diliburkan oleh kantor

(mungkin kantor Papa memang tidak merayakan natal)

mungkin bisa bolos atau libur atau cuti sehari ini saja?

Kan kami sudah ingin memasang pohon natal,

menghiasi pohon natal dan bungkus2 kado

-----

anakku tercinta,

papa mohon maaf ya,

akhir tahun ini adalah akhir tahun yang sibuk

saking sibuknya papa tidak bisa cuti walaupun cuma sehari

atau sebenarnya papa tidak berani mengajukan cuti

karena tidak tega sama teman2 papa yang sibuk di kantor

........

Pikiranku melayang-layang:

memang seharusnya aku cuti hari ini, sehari saja

hak cuti toh masih banyak, kenapa tidak cuti saja?

Cuti kan hak pegawai?

Kini aku cuma bisa menangis dalam hati

Mengapa aku tidak mampu konsisten dgn ajaranku sendiri pada anak2ku?

Aku jadi teringat pada tahun2 yang lalu

pada h-1 selalu sudah libur, jadi tidak perlu ambil cuti.

Karena itulah mungkin aku lupa memohon cuti.

Tapi seandainya ingat pun, aku tak akan tega (dan berani)

untuk ambil cuti, karena kesibukan di kerjaan.

Maafkan papa nak...,

Karena papa tidak bisa libur pada hari ini, hari h-1

mudah2an tahun depan para pembesar di kantor papa

tidak membebani pegawainya dengan kerjaan yang padat

dan justru memberikan libur kepada para pegawainya.

Maafkan papa nak...,

Papa rasa para pemimpin di kantor papa juga katolik

tapi yang namanya hati pada jaman sekarang sudah punah

hati nurani mereka gadaikan demi pujian, pangkat, kedudukan, uang

jadi bertolak belakang dengan jiwa natal itu sendiri

Maafkan papa nak....

Sabtu, Juli 16, 2011

PERNIKAHAN


Pada hari Senin, 11 Juli 2011, adikku menikahkan anak perempuannya di kota Temanggung, Jawa Tengah.. Anak semata-wayangnya, satu-satunya.


Sejak dua minggu sebelumnya aku dan adik-adikku telah merundingkan, bagaimana kami akan berangkat ke Temanggung. Hasilnya kami ber lima berangkat dari Bandung hari Sabtu, 9 Juli, jam 16.00 dari Cimahi, dengan menyewa mobil avanza.


Sampai di Kalibawang jam 03.00. Desa kelahiranku masih terlelap tidur. Tapi orang tua dan adik-adikku yang sudah lebih dulu sampai, bangun hanya untuk menyambut rombongan dari Bandung. Setelah menurunkan barang bawaan, kami tidur. Ada yang di lantai, ada yang di atas dipan, ada yang di ruang tamu, ruang depan dan kamar belakang. Tersebar, memilih papannya sendiri-sendiri.


Jam 08.00 kloter pertama, aku, kedua orang tuaku ditambah Bapak dan Ibu Cilik (Pak Lik dan Bu Lik) berangkat, mengejar acara siraman jam 10.00. Sampai Temanggung jam 09.15.


Di ruang tengah yang berkarpet biru itu kami duduk-duduk. Aku sendiri menuang air suci dari 7 mata air dari 7 sendang ke mangkuk-mangkuk kecil yang terbuat dari tanah liat yang sudah tertempeli kertas yang bertuliskan asal air suci itu. Dari mangkuk-mangkuk kecil itu nantinya air suci dituang ke dalam bejana besar untuk menyiram-menyucikan calon pengantin.


Pk. 10.00 terlewati tetapi acara belum mulai. Menunggu eyang dari ibu calon pengantin. Pk.11.00 demikian pula. Calon pengantin menangis. Ibunya juga menangis. Bapaknya cancut-taliwanda, menjemput sang eyang.


Jam 11.30 acara dimulai dengan sungkeman. Selain kedua orang tuanya, calon pengantin juga sungkem kepada eyang baik dari bapak maupun ibu. Haru.


Lalu ibadat panjang yang dipimpin oleh seorang prodiakon. Baru acara pokok: siraman. Semua orang yang dituakan menyiramkan air suci yang bertabur kembang ke calon pengantin. Indah sekali....


Keesokan harinya, aku langsung menuju Gereja St. Petrus dan Paulus. Belum ada siapapun. Kesempatan untuk melihat-lihat gereja yang dirusak massa beberapa waktu yang lalu. Terlihat beberapa tempat masih ditambal dengan tripleks. Patung-patung kelihatan baru, juga altarnya.


Pemberkatan pengantin dalam Sakramen Suci Perkawinan begitu indah dan agung. Romo Sadana, MSF bagus, lebih-lebih lektornya (jangan ketawa he...he...). Tetapi pengantinnya stress, karena cincin dan segala perlengkapannya belum sampai gereja. Bagian pemberkatan cincin pun diskip, beruntung pas persembahan acara itu bisa disisipkan kembali dengan mulus.


Resepsi di gedung Wismadilaga berjalan sangat lancar. Kami yang tiba-tiba “dipacaki” dengan beskap dan blangkon serta kebaya menjadi sangat kaku karena tidak ada koordinasi sebelumnya.


Stress-stress yang terjadi hanya merupakan dampak kecil dari polah orang tua. Semuanya tersirat dalam raut wajah yang redup dan tidak sumringah.


Kepada anakku Scolastica Sri Endah Dewi Pujiastuti, kuucapkan selamat menempuh bahtera kehidupan berkeluarga. Semoga Tuhan menyertai dan menutunmu sampai pada akhirnya...

Sabtu, Juli 02, 2011

DISEPELEKAN

(pengalaman pribadi sorang alumni)

Minggu kemarin aku ke kampus mengantar teman mengambil ijasah. Setelah ijasah di tangan, kami berdua “mampir” ke ruang dosen pembimbing skripsi. Kebetulan kami berdua dimbimbing oleh dosen yang sama.

Setelah bertegur-sapa seperti biasa, aku segera menyadari bahwa dosenku ini “lupa” akan diriku. Beberapa kali temanku itu menyebut namaku, tetapi dosenku tetap seakan-akan telah “lupa”. O ya, aku sendiri lulus pada bulan Februari 2010, sedangkan temanku itu lulus pada bulan September 2010.

Orang lupa adalah wajar, sangat manusiawi. Tetapi sering kali kita jumpai orang-orang yang pura-pura lupa, seakan-akan lupa.

Aku mengatakan “seakan-akan” lupa karena di balik ke-“lupa”-an itu, beliau bisa menyepelekan diriku. Beliau bilang kalau temanku itu bisa bekerja sesuai bidang ilmunya, sedangkan aku (beliau menunjuk diriku) hanya bisa bekerja dari bank ke bank lagi.

Malahan beliau bertanya padaku: “mengapa tidak bekerja di lembaga ini saja, kan gajinya lebih besar daripada di bank...”
Aku jawab: “saya tidak mampu bekerja di sini. Dan memang benar paling-paling saya hanya bisa bekerja dari bank yang satu ke bank yang lain”
Lalu katanya lagi: “kalau kamu bisa bekerja sesuai bidang ilmumu, dan bisa memiliki pengalaman 2-3 tahun saja di situ, bila kemudian bekerja di bank gajimu bisa puluhan juta...”

Pernyataan dan pertanyaan seperti itu diulang-ulang terus. Intinya adalah meremehkan diriku. Aku akui, aku termasuk mahasiswa dengan otak pas-pasan, miskin lagi...
Lalu aku nyeletuk: “saya mohon maaf belum bisa memberi kenang-kenangan seperti teman saya ini”.
Baru beliau mau berhenti meyindir dan menyepelekan saya dan berkata: “tidak perlu repot, saya tidak mengharapkan itu”

Itulah pengalamanku diremehkan mantan dosen pembimbingku sendiri, hanya karena aku belum memberi hadiah kepada beliau. Dan setelah kejadian itu aku justru membatalkan rencanaku yang sudah bulat untuk memberi sesuatu kenang-kenangan kepada beliau.

(diam-diam aku menyelidiki temanku yang bekerja di instansi dosen itu, ternyata gajinya hanya 50% dari gajiku sekarang....)