Sabtu, Maret 23, 2013
BMW
Minggu, Januari 27, 2013
DIES NATALIS
Jumat, Januari 18, 2013
Gerundel Si Miskin
Wahai para penguasa jagat raya..kepada siapa saya bisa mengadukan nasib yang terasa malang dan terombang ambing..hingga tumpah ruah air mata ini bercampur kekesalan setelah 6 bulan kutahan karena sebuah pengertian dan permakluman..
Saya karyawan UNPAR yang sudah 22 tahun mencoba untuk mengabdi dengan segala kekurangan saya (dan kelebihan yang mungkin saya miliki) dengan gaji yang pas pasan..
Juni 2012 saya tertimpa musibah dan harus menjalani operasi caesar dan opname selama 1 minggu di RS. St.Borromeus, disini kesedihan mulai tercipta.
Saya pegawai golongan rendah hanya boleh mendapat fasilitas kelas III di RS. Borromeus, kala itu kelas III penuh dan saya pilih menempati kelas II dengan prolog bahwa kelebihan atau selisih biaya kelas ini harus ditanggung sendiri... saya hanya bisa mengangguk setuju dengan keadaan yang sangat kesakitan karna harus segera menjalani operasi..
Setelah merasa agak membaik saya mulai bekerja lagi...dan...blaarr!! saya mendapat kabar baik yang disampaikan sangat merdu melalui surat yang di sign staf biro Keuangan (org baru, muda, gagah...), bahwa pada saat gajian bulan Juli 2012 saya harus melunasi biaya selisih kelebihan rawat inap sebesar Rp. 4.792.800,- yang notabene melebihi gaji saya di bulan itu! (bruto, Rp.4.620.000,-) artinya masih minus dan saya harus nombok....o lala...
Saya menelan ludah pahit dan berusaha mengadu pada penguasa untuk dapat diberi keringanan dengan mencicil 12 x agar terasa lebih ringan (karena saya masih punya utang ke bukopin Rp. 1.830.000 an/bln.), BUKAN TIDAK INGIN MEMBAYAR...tetapi dengan kemurahan hati penguasa yang tidak peduli dengan alasan apapun saya diijinkan mencicil hanya 6x saja dengan alih2 agar akhir tahun ini beres dan pekerjaan kami beres... oh Tuhan... (catatan blogger: hal ini pernah kutulis di bagian bawah tulisan ini).
Baiklah, saya jalani kewajiban membayar Rp.800.000,-/bln dengan cara potong gaji.
Bersamaan dengan terapi suntik (pengobatan lanjutan) yang harus juga saya jalani selama 6x dengan biaya Rp. 1.400.000,-/bulan (bantuan pinjaman dari teman yang merasa kasihan, Bp. JP. Isnaryono) sampai desember 2012... DONE....!!! rasanya legaaaa..terapi sudah selesai dan utang selisih biaya opname selesai...
Hari berlalu...detik2 pergantian tahun menjelang, ternyata ada sesuatu yg terjadi dengan tubuh yg masih belum 100% sehat ini, sy kembali berobat dan 1 juta lebih melayang karena jatah pengobatan tahun 2012 saldo sudah nol.
6 januari 2013 kembali harus berobat dan ada tindakan yang memakan biaya Rp. 1.153.000,-
dengan harap-harap cemas saya menunggu dapat reimburse karena akan berobat lagi esok hari sabtu tgl. 12 Januari 2013, tidak bisa ditunda..
Harapan saya kembali menjadi bubur lemu...karena harus menunggu Biro Keuangan menghitung saldo pengobatan tahun 2012 untuk seluruh karyawan..
SIAPA SIH YANG INGIN SAKIT DAN MENDERITA??!! TIDAK ADA....saya hanya bisa menangis sambil merenungi nasib...
Wahai penguasa jagat raya, saya kehilangan UNPAR yang dulu punya motto option for the poor??
Sabtu, Oktober 06, 2012
TAK ADA HATI (LAGI)
Sabtu, Agustus 04, 2012
HATI YANG MAU TERLUKA
Sabtu, April 14, 2012
Belinyu

Saat itu, bulan Januari 1975, untuk pertama kalinya aku mengajar di Santa Agnes. Di bawah bimbingan seseorang yang di kemudian hari aku anggap sebagai kakakku sendiri, Pak Sugriwanto, aku menjadi seorang guru yang baik.
Tak seharipun kami lewatkan untuk berdiskusi, sharing tentang hidup dan kehidupan bersama Pak Sugriwanto. Seringkali kami sharing di atas makam Sr. Ignata dari sore sampai pagi hari. Lambat laun kemanusiaan kamipun tergodok dan tertempa melalui hal-hal kecil yang kami alami dalam hidup sehari-hari.
Pada waktu umurku belum dua puluh, aku sudah mengurus semua keperluanku sendiri. Dari urusan pakaian yang kupakai untuk mengajar, sampai soal makan. Belum lagi pekerjaan rutin sebagai seorang guru yang harus mempersiapkan diri untuk mengajar, mengoreksi pekerjaan murid-murid dlsb.
Aku juga mengurusi anak-anak misdinar. Sebelumnya mereka tak ‘terwadahi’. Mereka langsung menerima perintah dari Pastor Paroki, yang notabene sudah tua. Tak jarang mereka bertugas karena takut. Aku sekedar membantu pastor untuk mengkoordinasi mereka. Membuat tugas harian, mingguan dan latihan untuk hari-hari raya, mengajak mereka rekreasi dan bermain.
Di luar jam mengajar, masih bersama Pak Sugri (demikian aku memanggilnya), kami bekerja sebagai tenaga lepas pada sebuah asuransi jiwa yang sudah tua. Kami menikmati itu, sering kali kami harus naik perahu kecil satu sampai dua jam menuju satu kota untuk menyampaikan kuitansi premi asuransi kepada para nasabah.
Dari situlah kerpibadianku tumbuh. Aku yang sekarang ini, sebenarnya dibentuk dan ditempa oleh kehidupanku pada tiga puluh lima tahun yang lalu. Untuk itu aku bersyukur boleh mengalami hal-hal itu semua….
Sabtu, Maret 31, 2012
Gua Maria Pelindung Segala Bangsa
Pada bulan Januari 1975 aku mulai mengajar di SD. St. Agnes di kota Belinyu ini. Pada saat itu Belinyu adalah kota yang sepi. Sampai akhir 1976, Belinyu kutinggalkan untuk melanjutkan perantauan dan pencarian di kota Bandung, Jawa Barat.
Aku sangat bersyukur karena pada hari Sabtu, 24 Maret 2012, aku dapat berkunjung kembali di kota Belinyu. Walaupun hanya sebentar, tetapi seluruh bayangan, walau samar-samar, tercipta kembali.
Syukur tak terhingga kepada Bunda Maria, Pelindung Segala Bangsa, yang pasti telah menuntunku kembali ke Belinyu. Betapa tidak. Jika di sana tidak bertahta Bunda Maria dalam sebuah Gua yang sangat bagus, di tengah pelataran dan taman yang terawat rapih, aku mungkin takkan pernah sampai sana.
Terima kasih, O Bunda Kudus...
Setelah doa Jalan Salib dan doa pribadi, baik di Gua maupun di Bilik Hening, kami bertujuh menikmati Bakmi Pelangi Belinyu. Dari situ kami meluncur ke Pelabuhan, sekedar menghidupkan kenangan yang telah memudar, samar-samar.
Mobil meluncur ke arah Pangkalpinang melewati Hotel Citra di Jl. Jendal Sudirman Sungailiat, tempat kami menginap malam sebelumnya. Istirahat sejenak di Raja Laut untuk menyantap sabu, kami langsung ke Pantai Matras, Pantai Rebo, Shaolin Temple dan terakhir mengunjungi Tempat Ibadah Dewi Kuan Yin.
Sampai Hotel Puri di Pangkalpinang sudah jam 20.00 lebih, tidak kuat lagi keluar selain istirahat total di sana.
Setelah mengikuti ekaristi di Katedral jam 08.00, pada hari minggu itu kami mencari-cari yang aneh di Pangkalpinang. Sempat beli jajanan pasar, kue-kue basah, dan akhirnya kami sampai pada pusat oleh-oleh dari Bangka.
Tanpa terasa, kami sudah harus sampai Bandara Dipati Amir.
Selamat tinggal Pak Endang, guide kami selama di Bangka.
Selamat tinggal Pangkalpinang, Sungailiat dan Belinyu.
Selamat tinggal kenangan.

