Rabu, Februari 08, 2017

Sabda Bahagia Mt. 5: 3-9



1.     Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
2.     Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
3.     Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
4.     Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
5.     Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
6.     Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
7.     Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
8.     Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
9.     Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Menjadi bahagia itu ternyata tidak mudah. Harus menderita terlebih dahulu, baru mendapatkan kebahagiaan. Tetapi memang realitasnya demikian. Tidak mudah mencapai rasa bahagia itu.

Banyak pendapat bahwa kebahagiaan itu didapat apabila orang tidak memiliki masalah. Apakah benar demikian? Saya rasa tidak! Banyak orang memiliki harta berlimpah, akan tetapi mereka tidak hidup bahagia. Mereka tetap memiliki masalah juga.   

Jadi, kita memang harus dtuntun untuk melihat sabda bahagia di atas.

Sabda pertama sampai ke delapan ditujukan kepada orang ke tiga, “berbahagialah orang….”. Sabda itu ditujukan kepada kita umat manusia. Sedangkan sabda ke sembilan ditujukan kepada orang kedua, khusus kepada “kamu” murid-murid-Nya.

Beruntung bagi “kamu-kamu”, karena menerima sabda yang ke sembilan, yang tentu secara otomatis menerima sabda-sabda yang lain, karena “kamu” termasuk orang! Hehe….

Tidak ada jalan lain untuk mencapai kebahagiaan absolut, yang kekal-abadi, kecuali menjadi murid-Nya. Tidak ada jalan lain!

Jumat, Februari 03, 2017

GEMBALA YANG RENDAH HATI


(Tahun lalu, tepatnya bulan Januari 2016, saya diminta menulis tentang Pst Nicolaas Christiaan Schneiders,SMM.)
 
P : “Mengapa saya? Mengapa tidak minta Pastor lain, misalnya pastor yang berasal dari jawa….”
S : “Tidak Pastor,  saya justru mengagumi Pastor. Oleh karena itu saya mohon Pastor untuk memimpin ibadat ini”.
P : “Baiklah kalau begitu….”
Itulah sepenggal pembicaraan saya dengan Pastor Nico . Pada waktu itu saya menghadap Pastor Nico memohon untuk memimpin ibadat menjelang pernikahan anak saya. Saya memang sengaja langsung ke Pastor Nico karena sudah sejak lama saya mengagumi beliau. Tidak saya duga sebelumnya, bahwa Pastor Nico mempersilahkan saya untuk ke pastor lain terlebih dahulu, karena beliau mengira bahwa ibadat ini akan lebih baik jika dibawakan atau dipimpin oleh pastor dari Jawa, misalnya. Ini adalah bukti kerendahan hati Pastor Nico. Beliau lebih mengarahkan saya kepada pastor lain, dan tidak dengan serta merta langsung menyanggupi permohonan saya. Dalam benak saya, kecuali sedang sangat sibuk, seorang pastor akan langsung menerima permohonan umat untuk memimpin pelayanan sakramen atau sakramentali. Ternyata Pastor Nico tidak demikian.

Mengapa saya mengidolakan Pastor Nico sebagai seorang gembala umat yang rendah hati?
Pertama, walaupun Pastor Nico bukan seorang pastor paroki, namun beliau sangat rajin menghadiri pertemuan lingkungan. Kami umat lingkungan 2 Santa Lucia merasa sangat beruntung, bahwa di  tengah-tengah kami ada biara Serikat Maria Monfortan, yang berada di Jl. Gunung Kencana 8-10, Ciumbuleuit, Bandung. Kami mendapatkan anugerah Allah yang sangat besar dengan kehadiran Pastor Nico khususnya dan Pastor-pastor serta Bruder SMM lainnya pada setiap pertemuan lingkungan.

Inspirasi, refleksi dan sharing iman dari Pastor Nico selalu membangkitkan gairah  umat lingkungan untuk turut serta aktif dalam menuangkan sharing-sharing pribadi di tengah-tengah umat yang hadir. Tidak dipungkiri bahwa sebagian besar umat masih menempatkan figur seorang pastor sebagai manusia istimewa, pastor-centris, tetapi terhadap Pastor Nico, kami umat lingkungan tidak demikian. Kami, khususnya saya menganggap Pastor Nico sebagai seorang ayah, yang selalu menyayangi anak-anaknya. Pertemuan lingkungan tidak pernah menjadi kering, tidak monoton karena kehadiran Pastor Nico selalu menghangatkan dan menggairahkan warga lingkungan yang hadir. Beliau selalu membuat kami merasa “happy” di dalam pertemuan. Beliau selalu menyegarkan iman kami. Sebagai Gembala, Pastor Nico tidak di depan atau di belakang kawanan domba, namun tidak ragu-ragu berada di tengah-tengah dombanya. Sekali lagi ini membuktikan bahwa memang Pastor Nico bagi kami adalah seorang gembala yang rendah hati.

Kedua, saya mengagumi Pastor Nico karena penghayatan imannya yang sangat dalam. Penghayatannya itu ditemukannya sendiri melalui pengalaman rohani dalam perjalanan hidupnya. Spiritualitas Monfortan sudah dihidupi dan menjadi nafasnya sehari-hari. Kitab Suci sudah menyatu dengan hidupnya. Refleksi imannya bukan berasal dari luar dirinya, tetapi memancar dari dalam jiwanya. Pastor Nico adalah gambaran orang yang berelasi sangat dekat dan intim dengan Yang Ilahi. Hal ini terlihat dari renungan-renungan yang amat dalam, gampang dimengerti dan menggugah, membangunkan kami.

Pastor Nico memiliki pengalaman iman yang dalam. Ada 2 peristiwa dalam Injil yang selalu disharingkan oleh beliau. Yang pertama tentang perumpamaan anak hilang yang kembali kepada bapaknya. Yang kedua tentang seorang penjahat yang disalib bersama-sama dengan Yesus. Dari 2 kisah dalam Injil itu Pastor Nico menyakini bahwa api penyucian atau yang sering disebut purgatorium itu tidak ada.

Anak yang hilang dan telah menghabiskan warisannya dengan berfoya-foya itu pulang dan seketika itu bapaknya mendekap, merangkul dan menciumi dia,  dan meminta kepada pelayan-pelayannya untuk segera membawakan jubah yang terbaik dan cincin untuk anaknya itu. Bapaknya mengajak pesta dengan menyembelih lembu yang paling gemuk. Bapaknya tidak menghukum anaknya itu, tidak minta waktu untuk menunggu. Bapaknya langsung menyambutnya.

Yesus berkata kepada penjahat yang disalibkan disampingnya, “pada hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam firdaus”. Yesus tidak mengatakan “besok” atau “lusa” atau “kelak engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam firdaus”. Yesus tidak meminta untuk menunggu, tapi tegas menyatakan “pada hari ini juga!”

Allah itu tidak terikat pada ruang dan waktu. Maka  bagi Allah tidak ada waktu  “sekarang” atau “besok”. Bagi Allah tidak ada istilah “tunggu sehari lagi, tunggu sekian tahun lagi”. Allah juga tidak memiliki tempat atau ruang untuk menunggu. Jadi tidak mungkin Allah mengakatan “kamu harus menunggu di tempat penantian” .

Kesimpulannya menurut Pastor Nico adalah Api Penyucian sebagai tempat untuk menunggu kesempatan manusia masuk ke surga itu tidak ada. Kesimpulan itu tidak mungkin tercetus oleh orang biasa seperti kita. Sudah berkali-kali kita membaca perumpamaan tentang anak yang hilang. Sudah berkali-kali pula kita membaca dan mendengar tentang kata Yesus kepada penjahat yang disalib bersama-sama dengan Yesus itu. Tetapi hanya Pastor Nico yang menghidupi sabda-sabda itu. Pergumulan hidupnya dengan Kitab Suci membawa Pastor Nico kepada kesimpulan itu. 

Selain itu, kita mengetahui bahwa Pastor Nico sudah 50 tahun hidup sebagai seorang pastor, dan sudah pasti lebih dari 50 tahun beliau hidup membiara. Sudah barang tentu pengalaman imannya sudah sangat dalam. Bukan sekedar iman yang mengambang di luar, tetapi iman Pastor Nico adalah hidupnya itu sendiri. Pengalaman selama 50 tahun sebagai seorang imam, telah mengantarkan Pastor Nico kepada kematangan dari seluruh hidupnya.

Selamat merayakan pesta emas imamat Pastor, semoga Pastor Nico selalu dikaruniai kesehatan yang baik, umur panjang dan tetap semangat dalam menghadirkan Kerajaan Allah dimanapun berada, terutama di Lingkungan 2, Lingkungan St. Lucia, Ciumbuleuit.  Terima kasih atas contoh hidup dan kehidupan iman kepada kami. Semua ini akan kami persembahkan kembali kepada Sang Kebijaksanaan, sekarang sampai selama-lamanya.

Amin.

Rabu, Februari 01, 2017

Yesus Sumber Kekuatan Bagiku


Pertanyaan siapa Yesus Kristus bagi saya, itulah pertanyaan yang diajukan oleh Rm Iwan untuk saya jawab dengan tulisan ini. Satu sisi pertanyaan itu mudah dijawab dengan jawaban-jawaban yang sudah diterima dalam pelajaran-pelajaran agama. Di sisi lain pertanyaan itu sulit dijawab karena jawaban itu harus bertolak dari pengalaman iman diri saya.

Pada tahun 1993, saya terkena fitnah yang sangat keji di tempat saya bekerja. Hampir tiap hari saya dipanggil oleh para pimpinan untuk diwawancara, diinterogasi seperti halnya seorang penjahat. Di hadapan pimpinan saya seperti seorang pencuri, seperti seorang koruptor kelas kakap; saya dituduh menerima uang sogokan.

Pada waktu itu hidup saya sudah tidak ada harapan, bingung, sedih dan letih. Semua teman menyarankan supaya saya tetap fokus, tetap tenang. Mereka menyemangati saya, mendorong saya agar saya tetap kuat menghadapi cobaan ini. Di satu sisi saya sangat berterima kasih kepada teman-teman saya, disisi lain saya seperti tidak kuat menanggung beban hidup ini.
Di rumah, saya melihat istri saya selalu berdoa, dan saya mengetahui dengan pasti bahwa dia sedang berdoa bagi diri saya. Berhari-hari berlangsung demikian. Maka saya mulai meniru kebiasaan istri saya. Saya mulai berdoa, mohon kekuatan, kesabaran dan kateguhan. Sebelum tidur, di kala terbangun tengah malam dan pagi hari setelah bangun tidur, saya mengikuti kebiasaan istri untuk berdoa.

Doa saya mulai membuahkan hasil. Setiap dipanggil untuk menghadap pimpinan hati saya menjadi tenang. Semua pertanyaan dapat saya jawab dengan baik, tidak gugup, dengan bahasa yang lebih teratur. Saya merasa telah dikuatkan oleh doa saya kepada Yesus. Saya menjadi berani mengungkapkan kebenaran.

Semenjak saat itu, saya meyakini bahwa Yesus adalah sumber kekuatan dalam diri saya.

Peristiwa kedua yang terjadi di awal tahun 2000 pun sama. Saya divonis oleh dokter bahwa saya harus menjalani oprasi jantung “bypass”. Ketakutan luar biasa saya alami beberapa hari menjelang oprasi. Semakin dekat dengan hari yang sudah ditentukan untuk oprasi, ketakutan dan kekawatiran dalam diri saya semakin parah.

Sehari sebelum oprasi, pada saat saya sudah diopname di rumah sakit, saya berdoa mohon kekuatan kepada Tuhan Yesus, dan juga berdoa rosario. Pagi harinya, saya menjadi tenang, penuh dengan kepasrahan, tidak ada rasa cemas dan takut lagi. Dan oprasi jantung berjalan dengan lancar tidak ada kelainan apapun juga.

Sampai hari ini saya selalu bersyukur, karena Yesus sungguh menjadi sumber kekuatan bagi saya.

Rabu, Januari 25, 2017

Dia adalah Cahaya Abadi



Hanya terang cahaya yang dapat mengalahkan kegelapan. Semua kegelapan demi kegelapan dalam hidupku mendapatkan terang cahaya, sehingga aku bisa kembali melihat jalan. Ya, terang cahaya itu telah menuntunku di jalan yang benar di dalam perjalanan hidupku menuju sebuah tempat yang serba membahagiakan. Bukankah setiap orang sedang berusaha mengarahkan tujuan hidupnya menuju kebahagiaan?

Melalui Dia, aku melihat cahaya itu. Dia menuntunku kepada tujuan hidupku. Aku melihat jalan itu, karena terang cahaya-Nya. Setiap kali aku melupakan-Nya, maka gelaplah hidupku. Tapi begitu aku jalan bersama-Nya, lenyaplah kegelapan itu. Maka hidupku penuh rasa syukur, betapapun banyak hujat-maksiat di sekelilingku.

Sepanjang hidup-Nya, Dia dihujani dengan hujatan dan kemaksiatan. Walau begitu aku tetap melihat Dia lurus. Dia konsisten, benar dikatakan benar, salah dikatakan salah. Yang salah tidak disalah-salahakan, tidak disingkiri, tidak dibenci, tapi diampuni, diberi pengertian bahwa itu salah untuk tidak diulangi lagi. Dia mementingkan pertobatan batin, dan Dia mengetahui batin seseorang.

Aku mengikuti-Nya, karena Dia menerangi hidupku. Apapun yang Dia lakukan tetap menerangi alam sekitarnya. Cahaya yang terpancar dari diri-Nya begitu terang. Sering kali orang tidak menyadari bahwa terang cahaya itu berasal dari-Nya.

Dia adalah terang cahaya abadi. Sejak dalam proses penciptaan, dimana pada awal mulanya dunia ini gelap gulita, Dia muncul sebagai cahaya terang. Dan baru nyata terlihat pada dua ribu tahun yang lalu, saat Dia hadir di tengah-tengah umat manusia, sampai sekarang.

Selasa, Maret 08, 2016

Senin, Maret 07, 2016

Aku Kembali ke Masa Lalu


Aku kembali ke masa lalu. Melalui lorong waktu yang 40 tahun lamanya, aku sampai di tgl 12-13 Februari 2016. Lorong yang paling panjang seumur hidupku.

Sejak kutinggalkan pada akhir tahun 1976, tahun ini aku boleh kembali di tempat ini, Belinyu, Bangka Utara. Dengan dibiayai oleh alumni St. Agnes, aku dimanjakan di Belinyu selama 4 hari. Betapa tidak! Dari hari Kamis, 11 Februari 2016, aku bersama Pak Supangkat, Pak Sugriwanto dan Pak Giri Kuwata telah ditunggu oleh seorang alumni yang ditugasi khusus menyertai perjalanan kami dari Jakarta sampai kota Belinyu, Maria Theo Ngiat San.

Mendarat di Bandara Dipati Amir kami telah ditunggu oleh puluhan alumni maupun mantan guru. Sudah ada bus yang menunggu para alumni dari luar Bangka.

Sejak mendengar bahwa akan ada temu alumni pada bulan Desember 2015, aku sudah menggebu ingin sampai hari yang ditunggu itu. Aku siapkan kronik berupa lirik lagu untuk lagu “The Litle Drummer Boy”.

Dengan disambut oleh beberapa alumnus, kami sudah di-booking-kan hotel, Golden Dragon Hotel, Belinyu. Sedari malam itu kami berempat sudah merasakan kehangatan penyambutan yang luar biasa.

Esok harinya, kami ikut jalan kaki pagi bersama guru dan murid keliling kota Belinyu sambil memungut sampah, mengajarkan rasa tanggung jawab atas kebersihan kota. Siang harinya kami diingatkan kembali kota Belinyu dengan menelusuri jalan-jalan, rumah-rumah alumnus, sampai ke beberapa pantai.

Hari ke tiga pun masih diajak berputar-putar kota dari sisi yang lain. Sampai malam puncaknya, acara Reuni Akbar 85th Santa Agnes di halaman sekolah. Disana telah beridiri panggung yang megah, tempat acara demi acara digelar sampai jam 22.00!

Terima kasih tak terhingga kepada para alumni yang dengan tulus menerima, mengajak-merangkul, melayani, memanjakan, mengangkat dan menghormati kami mantan guru. Kami bangga dan tentu bahagia bercampur haru memiliki murid seperti kalian. 

Ketika aku tersadar, aku terbelalak telah sampai pada waktu masa kini kembali, di Bandung,  Minggu, 14 Februari 2016, pada pukul 20.30.

Selamat berkarya, sampai jumpa di temu almuni 88th.

Selasa, Februari 09, 2016

DUC IN ALTUM



Bertolak ke tempat dalam berarti sikap pasrah untuk diubah oleh Tuhan

Mgr AntoniusYesus meminta para nelayan untuk “’Bertolaklah ke tempat yang dalam” (Luk 5: 4). Di situ, menurut Uskup Bandung dalam Surat Gembala Prapaskah 2016, yang dibacakan dalam Misa di semua gereja dan kapel di keuskupannya, 6-7 Februari 2015, “Yesus mengajak mereka untuk keluar dari zona aman dan nyaman yang selama ini dirasa cukup untuk hidup seadanya.”

Namun, tegas Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC, “Bertolak ke tempat yang dalam membutuhkan usaha lebih keras, nyali lebih berani, dan risiko lebih besar. Bertolak ke tempat yang dalam berarti membiarkan diri untuk mau dipimpin oleh Yesus. Bertolak ke tempat yang dalam berarti menerima tantangan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Akhirnya, bertolak ke tempat yang dalam berarti sikap pasrah dan percaya untuk diubah oleh Tuhan.”

Surat Gembala itu memang mengulas Injil hari itu, Luk 5: 1-11, tentang Yesus bertemu dengan para nelayan. Ajakan “bertolak ke tempat yang dalam” adalah undangan untuk makin mengandalkan Allah, menjadi bagian dari masa pertobatan pada tahun yang bertema “Hidup Pantang Menyerah,” kata Mgr Subianto.

Dijelaskan dalam surat gembala yang ditandatangani di Bandung pada Pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, 2 Februari 2016, bahwa mau dan mampu hidup pantang menyerah kalau mengandalkan Allah dan percaya bahwa Allah akan memberi jalan keluar tepat pada waktunya dengan cara yang pas asalkan kita tetap berusaha.

“Ajakan bertolak ke tempat yang dalam sebagai undangan untuk lebih memperhatikan sesama menjadi bagian dari tobat kita entah dalam pekerjaan maupun pelayanan. Kedekatan dengan Allah memacu kepedulian pada sesama dan peningkatan hidup pribadi,” kata Mgr Subianto.
Namun saat ini cukup banyak orang bertemu pintu tertutup bagai jalan buntu seperti yang dialami Petrus dan teman-temannya. “Di tengah kesulitan ekonomi, ada orang yang menderita kekurangan hingga hidup sengsara. Di tengah tuntutan pekerjaan, ada orang yang merasa sarat dengan beban hingga hidup tertekan. Di tengah usaha hidup sehat, ada orang yang sakit berat hingga hidup sekarat. Di tengah godaan dunia yang menggiurkan, ada orang yang tak berdaya keluar dari belenggu kebiasaan buruk hingga hidup putus asa. Di tengah impian akan kebahagiaan berkeluarga, ada orang yang tidak setia pada janji perkawinannya hingga hidup gelisah.”

Di situlah, kata Mgr Subianto, orang membutuhkan kehadiran Yesus yang memanggilnya: “Bertolaklah ke tempat yang dalam!”
Uskup berharap semoga laku tobat di masa Prapaskah 2016 membawa perubahan kualitas hidup. “Dengan mati raga dan puasa, kita menjadi orang yang makin mampu mengendalikan diri dan giat bekerja pantang menyerah. Melalui doa dan tapa, kita menjadi diri yang lebih pasrah dan mengandalkan Allah. Lewat amal kasih, kita menjadi pribadi yang makin peduli pada sesama. Perubahan kualitas hidup ini hanya terjadi kalau kita terbuka membiarkan Tuhan masuk ke dalam perahu hidup kita dan dengan penuh iman mengikuti undangan-Nya untuk bertolak ke tempat yang dalam,” tulis Mgr Subianto.

Dalam surat gembala itu, Uskup Bandung juga menyinggung tentang Tahun Belas Kasih sedunia dan Tahun Keluarga se-Keuskupan Bandung. “Dengan menetapkan tahun 2016 sebagai Tahun Belas Kasih Allah, Sri Paus Fransiskus mengajak kita ‘untuk dengan lebih sungguh menyerap belas kasihan Allah agar kita dapat menjadi tanda efektif dari karya Bapa dalam hidup kita”’ (Misericordiae Vultus, 3). Dengan kesadaran akan belas kasih Allah itu, kata uskup, pada Rabu Abu, 10 Februari 2016, masa Prapaskah dimulai sebagai saat rahmat dan kesempatan khusus untuk bertobat agar makin dekat dengan Allah.

“Pada saat itu kita disadarkan akan belas kasih Allah supaya membenahi diri dari kelemahan dan dosa, meningkatkan sikap peduli dan relasi dengan sesama, serta memperdalam kehidupan rohani dan kedekatan dengan Allah. Sikap tobat itu kita wujudkan melalui doa dan tapa, pantang dan puasa, serta amal dan kasih,” tulis uskup.

Menyinggung tentang Tahun Keluarga Keuskupan Bandung (2016-2018), uskup menegaskan, “secara khusus saya mendoakan saudara-saudari untuk setia menjaga kekudusan sakramen perkawinan dan keutuhan keluarga.” Kalau menemui kesulitan bagai jalan buntu, lanjut Mgr Subianto, “undanglah Tuhan yang penuh belas kasih untuk memasuki bahtera keluarga saudara sekalian dan bersama Tuhan bertolaklah ke tempat yang dalam.” (pcp)
sumber : http://penakatolik.com/2016/02/09/bertolak-ke-tempat-dalam-berarti-sikap-pasrah-untuk-diubah-oleh-tuhan/

Kamis, Maret 26, 2015

Hanya Terang Yang Mampu Mengusir Kegelapan

Untuk mengisi blog pertama dalam tahun 2015 ini, aku turunkan tulisan bagus dari Pastor Maman (dari SJB No. 12/21-22 Maret 2015)


Oleh: Pst. Thomas Maman Suharman, OSC


Diceritakan bahwa para Ahli Kitab, golongan Farisi, dan kaum terdidik di jaman-Nya (Lk. 11:14-23) menolak dan memusuhi Yesus. Mereka tak mau mengakui-Nya sebagai tanda dari Allah. Lebih dari itu, ketika Yesus menyembuhkan orang bisu, mereka menuduh Yesus bersekongkol dengan roh jahat, dengan kepalanya, Beelsebul.

Mengapa mereka menolak Yesus? Karena cara mereka menghayati agama berbeda dari Yesus. Bagi mereka, agama adalah untuk pamer dan kepura-puraan saja. Kesalehan mereka seperti puasa, doa, dan amal baik, mereka lakukan dengan rajin dan cermat. Tapi sayang, mereka melakukannya semata dengan maksud agar dipuji orang. Sedangkan bagi Yesus, agama adalah hati yang baik, belaskasih,  dan perjuangan keadilan. Maka Ia gampang menolong orang, menebarkan apa yang baik.

Orang- orang yang ditolong itu bersyukur dan kagum atas perbuatan baik Yesus, mereka merasakan dan mengakui bahwa Ia tanda dari Allah di dunia, mereka lalu mengagungkan Allah.

Nah, sebagai kaum terpandang dan pemuka masyarakat, menyaksikan bahwa rakyat banyak berpihak kepada Yesus, membuat mereka itu tersinggung, merasa mendapat saingan, irihati, hal yang menambah kebencian mereka kepada Yesus, sehingga mereka menolak-Nya.

Ada pelajaran lain yang dapat jadi bahan renungan kita: roh yang jahat, hanya dapat diusir oleh roh yang baik, kegelapan hanya dapat diusir oleh terang.  Demikian juga manusia, kalau roh jahat ada dalam dirinya, itu hanya dapat diusir oleh roh yang baik; dan setelah dibersihkan dari yang jahat, dari sampah kesalahan dan dosa, jiwanya tidak boleh tetap kosong, melainkan agar jadi tempat tinggal roh yang lebih berkuasa, yang kudus dari Allah. Hanya Roh Yesus, yang baik dan berkuasa dari Allah, yang tangguh menjaga manusia dari kuasa jahat.

Tuhan, lindungi kami agar kuat menepis setiap godaan jahat; jangan kami menjadi seperti rumah bersih tapi kosong, melainkan diisi oleh Roh yang baik dari Allah. Tanamkan keinginan akan kehadiran Terang Roh-Mu yang Kudus dalam diriku, agar Ia meluruskan cara kami menghayati agama: bukan untuk pamer dan kepura-puraan, melainkan untuk menghadirkan kebaikan, kebaikan, cintakasih. Jadikan kami saleh, tapi buatlah kesalehan kami terungkap lebih-lebih dalam mengusahakan kebaikan keadaan di sekitar kami, solider dengan orang yang dirundung susah (Bdk Yes 58: 6 Puasa yang dikehendaki Tuhan).