Ada penyakit yang inginnya menyakiti orang lain
setiap saat mencari kesempatan untuk menyakiti
kalau perlu membunuh sesamanya pelahan-lahan
semakin korbannya menderita semakin puas hatinya
Ketika melihat kemapanan hari-hari
: orang sakit sembuh, yang kekurangan menjadi kecukupan
penyakitnya sering kambuh tiba-tiba
Memang akhir-akhir ini sakitnya menjadi-jadi ia selalu kasak-kusuk ke setiap atasan yang mapan menanam pengaruh di lahan subur jiwa yang lapar merobek ketenangan berkarya di Unpar
Ada saja penyakit yang inginnya membunuh
membunuh karakter, membunuh keteraturan
dan menghidupkan kegelisahan hati yang tenteram
menina-bobokkan kekacauan sukma yang gersang
bandung, permenungan panjang selama libur akhir tahun 2008
Pada hari Jumat, 5 Desember 2008 (menjelang hari raya Iedul Adha), saya membaca bahan presentasi rapat, yang isinya antara lain tentang PERUBAHAN SYSTEM TUNJANGAN PEMELIHARAAN KESEHATAN.
Mudah-mudahan saya tidak salah mengingat:
mulai Januari 2009, seluruh pegawai tetap diberi tunjangan kesehatan sebesar Rp. 300.000,- per bulan, dibayarkan bersamaan dengan penerimaan gaji, dipotong pajak.
Jumlah istri (mungkin mulai Januari 2009 diperbolehkan beristri lebih dari seorang) dan jumlah anak tidak diperhitungkan.
Alasan Perubahan:
System yang lalu dinilai rumit
Pegawai yang sehat tidak diuntungkan
Banyak kejadian yang tidak menyenangkan di Biro Kepegawaian
Mudah-mudahan perubahan ini tidak jadi dilaksanakan, karena
Cukup atau tidak cukup pegawai sudah diberi tunjangan Rp. 300.000,- per bulan, kasihan bagi pegawai yang memiliki penyakit yang biaya berobatnya di atas Rp. 300.000,- per bulannya
Berapapun jumlah anak maupun jumlah istri tidak diperhitungkan
Seseorang yang sakit harus memiliki uang sendiri untuk berobat, diharapkan dari tunjangan tsb.
Seseorang yang tidak memiliki uang sendiri, tidak akan bisa berobat tanpa surat pengantar
Akan banyak pegawai dan keluarganya yang tidak mampu berobat, akibatnya banyak dari mereka yang tidak tertolong dengan cepat
Banyak karyawan yang menganggap tunjangan itu sebagai kenaikan gaji, mungkin lebih2 akan diijonkan terlebih dahulu.
Alih-alih menaikkan pendapatan melalui gaji, malah justru semakin menyengsarakan karyawan terutama golongan I dan II
Yang diharapkan karyawan adalah naiknya plafon pengobatan, bukan merubah sistem yang selama ini sudah baik.
Tidak ada ketenangan sewaktu karyawan/keluarganya sakit, karena harus merogoh koceknya sendiri. Selama ini ada ketenangan karena cukup membawa surat pengantar.
Tingginya Arogansi 2 tiba-tiba saja ingin aku tuliskan.
Betapa tidak! Karena semakin tinggi arogansi seseorang, sebenarnya semakin NOL nilai kemanusiaannya!
Setiap orang memiliki sifat ini, cuma kadar tinggi-rendahnya berbeda. Biasanya orang yang merasa bahwa dirinya “punya”, ia menjadi sombong, atau menyombongkan diri, atau memamerkan bahwa dirinya “punya”. Dan semakin merasa bahwa ke-”punya”-annya itu besar, atau banyak, ia menjadi lebih sombong, atau lebih menyombongkan diri, atau lebih pamer. Itulah yang aku maksud sebagai kadar tinggi-rendahnya arogansi.
Temanku yang memiliki arogansi tinggi itu ternyata karena ia merasa “punya”, padahal itu hanya perasaannya saja. Banyak orang lain (bukan hanya aku) melihat, bahwa yang “punya” itu adalah isteri dan anaknya. Memang isteri dan anaknya menjadi “punya” sedikit-banyak karena dirinya. Tetapi sebenarnya ia tak “punya” apa-apa. Orang menjadi iba melihat dirinya. Ia kosong melompong.
Dosen yang tinggi sekali arogansinya itu juga karena ia merasa “punya” banyak. Padahal ia tak “punya” apa-apa. Yang “punya” adalah institusinya, Unpar. Dia menjadi dosen yang dikenal dan laku di beberapa universitas lain karena ia lulus dan menjadi dosen tetap di Unpar. Bayangkan kalau dia menjadi lulusan dan dosen tetap Uninus, misalnya. Apakah ia bisa setenar ini? Atau bila ia sama sekali tidak mengajar di Unpar, masihkan ia dapat menyombongkan diri di sini?
Unpar memiliki gengsi dan arogansi tinggi juga karena merasa “punya” banyak. Tetapi ia lupa bahwa “punya”-nya itu karena telah dipunguti oleh para founding-father daritahun 1955. Setelah para pendiri tiada, masihkah sesuatu dipunguti?Mengapa ia sekarang menjadi sombong? Jangan-jangan karena sekarang Unpar telah tidak “punya” apa-apa lagi, kecuali kesombongan. Ke-”punya”-annya itu tetap dari sejak dulu, dan tidak bertambah dari waktu ke waktu, sehingga ditinggalkan oleh universitas lain yang lebih “punya” sesuatu. Ia menjadi bagaikan katak dalam tempurung.
Ada lagi saudaraku yang merasa “punya” segalanya. Ia merasa “punya” hak banyak, sebagai anak, sebagai kakak, sebagai adik, sebagai laki-laki, sebagai ayah, sebagai suami, sebagai yang lain-lain. Ia juga merasa “punya” sesuatu. Iamerasa “punya” uang, rumah, kendaraan, fasilitas.Dan semua perasaan “punya” itu disombong-sombongkan. Ia menjadi angkuh. Tetapi sebenarnya ia tak “punya”apa-apa. Yang “punya” adalah saudara-saudaranya, isterinya, orang-tuanya. Ketika iamenyombongkan diri, saudara-saudarinya melihat sebagai bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Semakin ia congkak, bersamaan dengan itu ia semakin rendah dan nilainya di bawah NOL. Aku sangat kasihan padanya.
Orang-orang yang memiliki arogansi tinggi menolak realitas. Mereka tidak mampu melihat dirinya. Ia tidak mampu melihat dunianya. Tanpa disadari, ia menjadi orang lain yang “punya”. Ia tidak pernah menjadi dirinya sendiri. Ia kehilangan diri. Ia tidak ngrumangsani. Dan orang lain mengelus dada, iba melihatnya.