Minggu, Maret 28, 2010

SARASEHAN

Syukur pada Allah, bahwa akhirnya pada hari Sabtu, 20 Maret 2010, Yayasan menyelenggarakan sarasehan dengan para tenaga penunjang atau tenaga adaminstrasi atau tenaga non-pengajar. Pada awal kepemimpinan yang sekarang pun pernah diadakan acara serupa dengan tema serupa tetapi dalam suasana tegang di bawah wajah2 garang dan galak siap menerkam siapapun yang memgeluarkan kritikan.

Karena dari awal acara sudah dipersilakan untuk mengeluarkan uneg2, dari yang halus sampai dengan yang kasar, maka para peserta tidak ragu-ragu untuk memberikan koreksi dan masukan demi perbaikan dan kebaikan bagi semua warga.

Diberikan waktu hampir 2 jam untuk dialog itu, tetapi dirasakan sangat tidak cukup. Masih banyak acungan tangan minta waktu untuk bicara, tetapi waktu sudah menunjukkan pukul 11.30, mederator langsung memberikan microphone kepada Pst. Anton. Untuk itu dipersilakan para peserta yang masih ada uneg-uneg dan belum sempat diutarakan untuk menuliskannya dan menyerahkan kepada beliau.

Untuk itulah saya menulis ini untuk menumpahkan isi pikiran saya:

  1. Saat ini terkenal dengan istilah POLICY OF NO POLICY. Kelihatannya memiliki aturan, padahal tidak. Seolah-olah memiliki karya, padahal tidak. Kelihatannya bekerja padahal tidak!
  2. Mohon dibenahi jurang perbedaan antara dosen dan non-dosen. Kesan bahwa dosen adalah masyarakat kelas 1 dan non-dosen adalah masyarakat kelas 2 telah meluas. Dan tentu saja ini pandangan yang amat “tidak pantas”.
  3. Mohon ditertibkan dosen yang seenaknya masuk kantor.
  4. Mohon diatur dengan jelas tugas, kewajiban dan tanggung jawab dosen. Banyak dosen yang panggilannya bukan sebagai dosen, tetapi di Unpar hanya sekedar mencari makan. Mereka tidak becus mengajar, mencelakai nasib mahasiswa (memberi nilai dengan tidak bertanggung jawab, misalnya angka 79,6 tidak membulatkan menjadi 80, sehingga nilai akhir mahasiswa tsb. menjadi hanya B!); memberikan nilai terlambat 1 semester atau bahkan lebih, terlalu banyak mengajar di luar Unpar, atau mengajar sampai 24 sks, dst…dst…
  5. Mohon tunjangan kesehatan dikembalikan kepada SK tahun 1983! Orang sehat diberi tunjangan seperti orang sakit adalah aneh! Itu hanya ke-iri-an yang membabi buta. Itu komunis!
  6. Gratiskan kembali parkir di dalam kampus. Keluhan mahasiswa dan orang tua serta masyarakat tentang hal ini sudah sangat banyak. Gratiskan dan tertibkan.
  7. Prestasi yang luar biasa adalah jumlah karyawan yang di-PHK. Beberapa dari mereka merupakan kesalahan pimpinan sendiri, tetapi orang “kecil” jualah yang menjadi sasaran/korban PHK. Hal ini sungguh menjadi keprihatinan banyak orang, hanya mereka tidak berani terus terang karena takut. Perlu aturan jelas juga reward and punishment yang akan dipegang.
  8. Mahasiswa selalu menuntut fasilitas kemahasiswaannya. Tetapi kelihatannya universitas tidak memiliki prioritas. CCTV malah didahulukan, dan sekaligus penumpukan anggota Satpam out-sourching. Pertanyaannya: mengapa sampai rangkap-rangkap seperti itu?
  9. Setuju sekali untuk segera dibenahi pada semua sistem. Sekarang telah terjadi “kekeringan” di antara karyawan. Sikap apatis sudah menjalar: teman-teman yang dahulu bersemangat tinggi, bermotivasi bagus, sekarang loyo. Semangat dan motivasi terbunuh oleh sikap pimpinan sendiri.
Terima kasih sekali lagi atas kesempatan ini.
(tulisan ini rangkuman dari tulisan2 saya di: http://home.unpar.ac.id/~isnar/isnary.html)

Minggu, Maret 21, 2010

UMB PTS

Kita mengenal istilah Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Itu testing atau ujian saringan masuk bagi calon mahasiswa di perguruan tinggi negeri. Dahulu ada SIPENMARU, PERINTIS, UMPTN.

Sejak tahun 2009, ada SPMB PTS: Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru untuk calon mahasiswa perguruan tinggi swasta. Mereka menyebutnya UMB: Ujian Masuk Bersama. Sungguh-sungguh merupakan kreativitas orang jaman sekarang untuk mencari uang. Serba di-“ulik”.

Pada tahun 2009, SMPB PTS dilakukan secara manual, baik pendaftaran calon peserta testing maupun sistem ujiannya. Calon harus membayar formulir dan biaya ujian sebesar Rp. 225.000,- di BNI. Bukti pembayaran tersebut ditukarkan dengan formulir pendaftaran. Setelah formulir pendaftaran diisi, didaftarkan di PPL (Panitia Penyelenggara Lokal).

Jumlah peserta sangat minim. Ini proyek sangat merugi. Dari biaya Rp. 225.000,- tersebut dikembalikan kepada masing-masing universitas sebesar Rp. 75.000,- Biaya sebesar Ro. 75.000,- ini dimaksudkan untuk institusional fee sebesar Rp. 25.000,- dan untuk pelaksanaan ujian Rp. 50.000,-

Dengan biaya yang sangat minim, penyelenggaraan di tiap universtias berjalan baik. Pada tahun 2009 itu diadakan sebanyak 2 gelombang.

Sadar akan kerugian besar di tahun 2009, para profesor itu memutar otak. Pada tahun 2010, sistem pendaftaran maupun testnya menggunakan sistem on-line, dengan mengandalkan teknologi informasi. Tahun ini direncanakan 4 gelombang ujian. Gelombang 1 berlangsung pada bulan November 2009, gelombang 2 pada bulan Februari 2010 dan gelombang 3 direncanakan pada bulan Juli 2010, serta pada awal Agustus dilaksanakan gelombang ke 4.

Sampai UMB PTS gelombang 2 jumlah peserta masih jauh di bawah harapan. Oleh karena itu besarnya dana penyelenggaraan pun "dicukup-cukupkan", disesuaikan dengan jumlah calon yang mendaftar. Namun dengan tanpa “tedeng aling-aling” seseorang meminta jatah “honor”. Ini sudah dikemukakan beberapa kali. Maka dengan “mengurangi” honor staf sekretariat PPL, “beliau” diberi “honor”.

Apa yang terjadi sungguh sangat mencengangkan. “Beliau” malah juga minta jatah untuk UMB gelombang 1 dan gelombang 2 tahun 2009 dan gelombang 1 tahun 2010.

Dengan tergopoh-gopoh Sekretaris PPL menciptakan 3 amplop lagi sebagai tambahan, semacam rapel 2 kali penyelenggaraan di tahun 2009 dan sekali 2010.

Apa komentar Anda?

Minggu, Maret 14, 2010

PENJALA MANUSIA

Tugas 4 Public Speakinhg: Lukas 5:1-11

Pesan : Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia

Saudara-saudara yang terkasih,
Sering kali kita merasa malu karena bersalah. Sering kali kita merasa menyesal dan tak henti-hentinya minta maaf dan mohon ampun. Dengan berbagai cara kita berusaha untuk memperbaiki perbuatan kita, agar kita dimaafkan. Katakan saja kita pernah bersalah terhadap seorang sahabat. Rasanya sangat tidak enak bertatap muka dengan orang yang pernah kita sakiti, dimana kita pernah berbuat dosa terhadapnya.

Lebih-lebih terhadap mereka yang pernah kita sakiti tetapi selalu bersikap baik kepada kita. Kita akan merasa lebih malu lagi. Dan sering kali kita menghindar untuk bertemu dengan mereka.

Demikian juga yang dialami Petrus. Ia beberapa kali jatuh dan sebanyak itu pula selalu ditangkap dan ditolong oleh Yesus. Petrus malu dan tersipu-sipu dan bersimpuh di depan Yesus sambil berkata: Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.

Petrus pernah akan tenggelam ke dalam air laut karena tidak percaya bisa berjalan di atas air sesuai dengan yang diperintahkan oleh Yesus. Dan sekarang Petrus tidak percaya ketika diminta bertolaklah ke tempat yang dalam. Ia merasa sangat bersalah telah tidak mempercayai Yesus. Rasanya ia ingin lari dari hadapan-Nya. Ia sangat malu. Tetapi Yesus berkata: "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."

Petrus, yang pada awalnya menjala ikan untuk kepentingan hidupnya, untuk menafkahi keluarganya. Tidak terbayang oleh Petrus, bahwa ia harus menangkap ikan demi ikan itu, untuk menyelamatkan tangkapannya. Sekarang ia harus menjala manusia bukan untuk keperluan hidupnya sendiri, melainkan untuk menyelamatkan yang dijala, yang ditangkap, yaitu orang-orang berdosa, orang-orang yang belum bertobat.

Saudara-saudara yang terkasih,
Kita pun, setiap saat diminta oleh Yesus untuk bertolak ke tempat yang dalam, ke dalam kedalaman hidup kiita. Lebih-lebih pada masa Prapaska kali ini pun Yesus mengetuk hati kita untuk introspeksi ke dalam diri. Sampai sekarang pun kita selalu dijala dan ditangkap oleh Yesus, terutama bila iman kita mulai goyah, bila kita hampir tenggelam, bila kita mulai mau menyangkal-Nya.

Dan setelah kita dijala dan ditangkap oleh Yesus, kita dijadikan penjala manusia. Demikianlah melalui pembabtisan, kita telah ditangkap, telah dijala oleh Yesus. Sebagai orang yang telah dijala dan ditangkap bagaikan ikan, kini kita diberi tugas : "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."

Sekarang kita dijadikan penjala manusia, melalui karya kita, melalui hidup kita sehari-hari, melalui bakat dan kemampuan kita masing-masing. Apakah hidup Petrus berubah setelah ditangkap oleh Yesus? Sudah pasti. Kini, kita pun tak bisa berdiam diri, hidup kita telah diubah, dan dengan demikian mau tidak mau kita harus berubah. Dengan demikian, semoga makin hari kita semakin menjadi penjala manusia yang baik, yang menghasilkan tangkapan yang banyak, yang sampai memohon bantuan nelayan lain untuk membantu mengangkat tangkapan kita.

Saudara-saudara yang terkasih,
Semoga kita pun mampu membantu Gereja dalam pelaksanaan tugas karya penangkapan ikan dan penggembalaan para imam. Bila kita bersama Yesus, hasil tangkapan kita akan selalu besar.
Amin.

Minggu, Januari 31, 2010

DIES NATALIS KE 55


Baru-baru ini tempatku bekerja merayakan hari jadinya yang ke 55. Acaranya ya begitu-begitu saja. Biasanya pas hari ulang tahunnya diadakan acara oratio dies. Oratio Dies kali ini dibawakan oleh Dekan FISIP, Dr. Ulber Silalahi, MA.


Thema oratio kali ini adalah “Kepercayaan sebagai Modal Sosial dalam Berorganisasi: Meningkatkan Kinerja Organisasi dan Kepuasan Kerja Pegawai Melalui Perilaku Saling Percaya”. Tentang thema ini kapan-kapan akan aku tulis secara khusus. Penting diingat tentang thema ini adalah bahwa organisasi yang sehat perlu adanya kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin.


Beberapa hari kemudian diadakan Misa Syukur, dengan thema “Memberi dengan Sepenuh Hati”. Sebagai selebran adalah Mgr. Michael Cosmas Angkur, OFM, dan konselebran adalah Pst. Antonius Subianto, OSC, dan Pst. Cristoforus Triharsono, Pr.


Dekorasi misa sungguh luar biasa. Gedung Serba Guna disulap menjadi Gerja modern. Misa terlambat 50 menit, tetapi tak seorangpun merasa “aneh”. Doa Syukur Agung III pada teks misa berasal dari copy-paste yang tak dicek dan dibaca lagi sebelum diperbanyak. Di sana masih tercetak “…Paus kami Yohanes Paulus II, dan Uskup kami Alexander Djajasiswaya….” Pergeseran nilai2 memang sudah mulai tampak disana-sini.


Acara puncaknya adalah acara kekeluargaan. Acara didominasi oleh seorang (hanya seorang) karyawan. Acaranya benar-benar kering, tidak menarik sama sekali. Konon biaya pengisi acara itu 4 juta rupiah. Orang-orang setia menunggu sampai sore, tetapi bukan menikmati suguhan acaranya. Mereka menunggu door-prize!


Kesan dari seorang pensiuan yang sempat hadir dari pagi hingga hampir pk. 16.00 adalah “bekas kantorku sudah dipenuhi oleh orang-orang muda yang tidak punya sopan-santun…”


Yang perlu Anda ketahui adalah bahwa seluruh tulisan ini hanya bersumber pada “katanya”. Jadi penulis sama sekali tidak melihat dan mengalaminya sendiri. Penulis hanya mendengar cerita kanan-kiri, yang mendorongnya untuk menuliskannya di sini apa adanya.

Sabtu, Januari 23, 2010

SOLIDARITAS

Ternyata masih ada solidaritas di sini, di tempatku bekerja. Sudah lama aku menyangsikannya. Aku pikir peristiwa demi peristiwa yang menyakiti hati warga secara komunal maupun secara individu telah memporak-porandakan solidaritas. Terrnyata aku salah!

Awal Desember 2009 aku menulis email kepada teman-teman begini:
Temans, kemarin aku melihat kondisi terakhir Mas Setyarso.
Yang sempet aku tangkap adalah: kegundahan jiwa menyelimuti dirinya sehubungan dgn besarnya biaya pengobatan yang hrs ditanggungnya.

Di tengah2 problema hidup kita masing2 yang sedang menyiapkan natal dan tahun baru apakah teman2 setuju jika kita mengedarkan daftar kolekte se-rela2nya dari teman dekat dan jauh di lingkungan terbatas unit kita masing2?

Mohon tanggapan,
salam, isnar@home.unpar.ac.id

Dari email itu ternyata bersambut dengan sangat posotif dan sungguh luar biasa. Minggu ke dua saya mulai mengirimkan daftar nama calon kolektan. Ada unit yang tidak sabar menunggu daftar yang saya buat itu, dan mereka mengedarkan amplop kosong dengan tulisan di bagian depannya:

Sehubungan dengan rekan kita tercinta yaitu Sdr. Theodorus Setyarso, telah menjalani operasi jantung (pemasangan cincin) dengan biaya yang cukup besar, maka bagi rekan-rekan yang ingin memberikan perhatian dengan kesediaannya untuk memberikan sedikit dana untuk meringankannya, silahkan mengisi amplop ini.

Terima kasih atas perhatian dan bantuannya, Semoga Tuhan senantiasa memberikan berkat yang melimpah kepada kia semua. Amin.

Sedangkan tulisan pada daftar calon kolektan yang saya buat adalah:
Yth. Ibu, Bp, Sdr., Sdr, teman dan kawans,
Di tengah-tengah lajunya peningkatan beban lahir-batin kita dalam
menyongsong datangnya natal dan tahun baru, kita terhenyak oleh rasa haru bersamaan dengan pemasangan ring ke dalam pembuluh darah di jantung Mas Setyarso.

Kita tengok sejenak beban di pundak Mas Tyo, sambil mengulurkan angan dan meneteskan kasih dalam bentuk nyata.
Tuhan pasti membalas kebaikanIbu/Bp/Sdr/Sdri.

Bukti dari solidaritas itu berupa ucapan kepada Mas Tyo,:
Teriring doa dari hati kami yang paling dalam,
Semoga Mas Setyarso cepat sembuh kembali seperti sedia kala.

Salam dari kami, sahabat-sahabatmu dari BAAK dan sekitar (950.000,-), FISIP (2.465.000,-), FTIS dan Perpustakaan (500.000-), FE (550.000,-) dan FT (390.000,-).

Ada pula unit yang setelah menerima blanko daftar calon kolektan itu secepat kilat mengedarkan di kalangan unitnya, dan langsung menyerahkannya sendiri kepada Mas Tyo.


Terima kasih Tuhan, ternyata solidaritas di antara kami masih Kau lindungi.
Amin.

Selasa, Desember 22, 2009

Rizma Amalia

(Pada malam pertama libur akhir tahun ini, tiba-tiba aku teringat padanya)

Ada 2 orang gadis, dua-duanya bernama Rizma Amalia. Rizma yang pertama adalah seorang gadis, alumnus Ekonomi Pembangunan Unpar. Ia cantik, luwes, ramah dan pinter. Orang-orang tata usaha Fakultas Ekonomi memanggilnya sebagai Iteung. Beberapa tahun terakhir menjelang lulus, ia membantu Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru, Seksi Pendaftaran.

Gadis kedua, namanya juga Rizma Amalia. Jangankan lulus sarjana, Taman Kanak-kanak pun belum! Umurnya baru 3 tahun kurang dikit. Ia lahir prematur, dan selama 3 bulan pertama harus menginap di Rumah Sakit. Ia juga gampang sakit. Sebentar-sebentar sakit. Setiap Rizma sakit, Kang Dede, ayah gadis ini, meminta surat pengantar berobat ke Rumah Sakit Borromeus.

Sekarang, bila Rizma kecil sakit, Kang Dede hanya bisa menangis. Kira-kira pada bulan Agustus 2009, Kang Dede diepecat dari tempat kerjanya. Jadi ia tidak pernah bisa lagi minta surat pengantar untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Ia tak punya uang untuk pengobatan anaknya. Pinjaman ke saya sebelum dipecat pun saya relakan untuk tidak dikembalikan, karena saya tahu, ia tidak bakal bisa membayarnya.

Dede telah dipecat. Ia mendapat hak uang pesangon kurang lebih 38 juta, tetapi dipotong langsung oleh koprasi, sehingga ia tidak bisa membawa pulang pesangon itu. Sekedar catatan pengeluaran untuk laporan kepada isterinya pun ia tidak mendapatkannya.

Memecat seseorang, apalagi orang kecil seperti Dede, gampang sekali. Dan Ia bangga sekali bisa memecat anak buahnya. Konduitenya naik drastis. Reputasinya hebat. Ia tidak sadar, bahwa ia telah membunuh 4 jiwa sekaligus: Dede, isterinya, dan 2 anaknya, termasuk Rizma kecil yang sakit-sakitan.

Tidak perlu diajar-ajarkan, tugas seorang pimpinan itu apa. Yang jelas, tugasnya PASTI bukan untuk memecat anak buahnya. Sebaliknya, ia harus melindungi mereka. Jika Anda dewasa dan normal-wajar, naluri sebagai pimpinan secara otomatis akan mengikuti Anda: tugas pimpinan pasti bukan untuk membunuh dan membunuh!

Sabtu, Oktober 31, 2009

Masih buat Pst. H. Kartono, OSC

Kata Akhir

Doa syukur dan terimakasih, ucapan selamat dan bahagia, harapan dan doa, bertaburan disekeliling Pastor Heri Kartono, OSC. akhir-akhir ini, di sekitar tanggal 15 Agustus 2009.

Maafkan kami Mo, karena sudah menghujani Romo dengan ucapan dan doa seperti pada halaman-halaman depan buku ini. Kami tidak tahu berat-ringannya perjuangan Romo selama 25 tahun ini. Hanya Romo dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Kami sering terjebak untuk mengkultuskan seseorang, terutama bilai tu seorang pastor. Ini semua bukan maksud kami untuk mengesampingkan pergulatan Romo yang luar biasa terhadap apa yang disebut sebagai panggilan.

Kami cuma bisa melahirkan kabahagiaan kami melalui ucapan-ucapan itu semua. Hanya itu…hanya itu..

Hidup menjadi ringan, karena homo ludens Pastor Heri. Bila hidup kami stress dan tegang, kaku dan beku, menjadi lega dan cair bila bertemu dengan Romo. Biasanya kami diajak menari, jiwa kami dipermainkan semaunya sendiri. Dan setelah itu biasanya kami bisa tersenyum lagi…. Terima kasih ya Mo…

Singkatnya kami semua menikmati Kristus melalui hidup Romo. Tuhan benar-benar lewat dan singgah dalam hidup kami, melalui pergaulan kami dengan Romo Heri. Ini yang penting. Dan ini cukuplah. Sebab hidup kami menjadi sebuah anugerah bila beriringan dengan-Nya. Jadi, Kristuslah yang hidup dalam diri kami, bukan diri kami sendiri!

Akhir kata, bertepatan dengan tahun imam pula kami hanya bisa lambungkan doa singkat kami, berulang-ulang, seperti biasanya sampai kami tertidur:

“Bapa yang maha kasih,
Tariklah Pastor Heri ke dalam pelukanMu, bila nikmat dunia menggoda.

Hiburlah dia, ketika ia merasa sendiri dan sepi,
ketika ia mengalami susah dan derita,
dan bila pengorbanannya nampak sia-sia.

Dekaplah dia senantiasa,
karena walaupun ia telah Kau anugerahi panggilan ilahi,
namun ia toh tetap memiliki hati insani dengan segala kerapuhan manusiawi.

Semoga setiap hari pikiran dan perbuatannya aman terjaga
dan menjadi teladan indah bagi seluruh umat kesayangan-Mu”.

Amin.

salam,
isnar@home.unpar.ac.id

Sabtu, Oktober 24, 2009

Sejenak Bersama PST. HERIBERTUS KARTONO, OSC

Selama tiga tahun pertama hidup membiara, saya bersama-sama dengan Fr. H. Kartono. Hidup sekamar selama satu tahun, dan pada waktu itu bertugasbersama sebagai koster.

Pengalaman sebagai koster.
Setiap hari Rabu kami libur, tidak kuliah. Hari itu kami pakai untuk membersihkan kapel. Sambil menyapu dan mengepel lantai Pst. Kartono selalu menyetel kaset melalui player pada organ. Yang didengarkan adalah pelajaran Bahasa Sunda. Menghafalkan 3 tingkatan bahasa, bahasa kasar, menengah dan bahasa halus. Tidak heran jika Pak Sabda, dosen bahasa Sunda, sangat menyukainya.

Liburan akhir tahun saya ikut Frater ini ke Brebes, tempat orang tuanya. Kesan pertama saya adalah: keluarga sederhana tetapi harmonis. Anak-anak terhadap orang tua bicara dalam bahasa jawa yang halus. Bahkan ada seorang cucu yang belum sekolah pun sudah pandai sekali bicara dalam bahasa jawa yang halus. Karena setiap liburan saya ikut ke Brebes, lama-kelamaan Bapak dan Ibu Bambang sudah menganggap saya juga sebagai anak sendiri.

Pak Bambang sering menulis surat untuk saya. Diketik sendiri dan diposkan sendiri oleh beliau. Bahkan sewaktu sudah sakit pun, Bapak mengetik surat dengan satu tangan untuk saya. Pada surat-surat itu beliau selalu menumpahkan segala perasaan beliau terhadap anaknya yang meniti panggilannya sebagai seorang calon pastor. Bapak bangga sekali pada Fr. Kartono, dan tidak sejenak-pun melupakannya bila berdoa. Kadang-kadang saya merasa iri, karena Frater Kartono selalu didoakan oleh Bapak dan Ibunya, sedangkan tidak demikian dengan orang tua saya.

Pengalaman di sekolah.
Seingat saya, Fr. Heri Kartono adalah mahasiswa yang paling baik IP-nya dibandingkan dengan kami teman-teman seangkatannya. Selagi kami mati-matian belajar bahasa latin, ia belajar matakuliah lainnya, karena ia sudah tidak perlu menempuh matakuliah itu. Dan pada waktu kami belajar matakuliah pokok, ia malah belajar Bahasa Belanda, padahal tidak ada matakuliah itu! Pada awal-awal kuliahpun Fr. Kartono sudah menguasai Bahasa Inggris dan Perancis (di samping Bahasa Jawa dan Sunda..he..he..).

Pada suatu ketika Pst. Kartono dikursuskan main organ. Saya salut karena kursus baru beberapa kali pertemuan saja ia telah bisa dan berani mengiringi doa-doa dan misa harian. Jari-jarinya besar-besar dan pendek, tetapi bisa cepat menyesuaika diri dengan tuts-tuts organ.

Di rumah (biara), seangkatan kami hanya 3 orang. Kalau ada tugas yang kebetulan per angkatan, kami serahkan saja pengerjaannya kepada Fr. Kartono. Tugas membuat doa , tugas memimpin doa, kami sepakat dialah yang membuat dan membawakannya. Sorry ya Mo...

Dalam pergaulan.
Untuk pertama kalinya saya mengenal permaian kartu bridge ya dari Pst. Kartono. Saya diajari karena ingin main seperti teman2 dari ITB, UNPAD, IKIP yang bermain kartu setelah misa hari minggu. Saya baru menyadari bahwa permainan itu bisa menambah pergaulan dengan sesama mahasiswa di Gema. Dan memang benar, Fr. Kartono sangat luwes dalam bergaul. Bahkan menonton pertandingan karate di gelora pun sering kami lakukan.

Pokoknya pastor kita yang satu ini sangat luwes dan pandai bergaul. Ia juga pinter melucu dengan mimik wajah yang sangat tenang. Ia sangat lucu tapi bisa tanpa ekspresi. Kadang-kadang saya jengkel karena saya ajak bicara serius, tetapi jawabanya malah sangat lucu.

Saya kira kelucuannya akan semakin bertambah dengan dilewatinya pesta perak imamatnya ini. Kita baca tulisannya di blog. Segar, lucu, tapi juga sangat menambah wawasan bagi pembacanya. Saking lucunya sering saya tertawa sendiri di depan komputer sampai teman sekantor mengira saya sudah sinting.

Selamat pesta perak Mo, .
Semoga Allah melindungimu selalu,
sebab dirimu adalah milik-Nya semata!
Biarlah hidupmu terbakar luluh di atas altar-Nya yang suci.,
sebab dirimu telah disucikan dan menyucikan diri bagi-Nya.

salam,
isnar@home.unpar.ac.id