Minggu, Januari 27, 2013

DIES NATALIS



Dies Natalis ke 58
Acara kekeluargaan, 26 Januari 2013

Selamat merayakan hari jadi yang ke-58!
Tema dies adalah “Menjadi Pribadi yang Utuh Sesuai Nilai-nilai Dasar Unpar”, dan baru kali ini acara dies diberi tema semacam ini. Kemajuan yang bagus!

Walaupun pada realitasnya masih jauh sekali, tetapi jika setiap saat diperdengarkan tema sebening  itu, semoga seluruh warga sivitas akademika lama-lama menjadi “melek” juga.

Ya benar, pada realitas sehari-hari masih jauh sekali. Bahkan ketika Pst. Anton Subianto, OSC menyampaikan nilai-nilai dasar itu dalam orationya, banyak orang nyengir karena terasa lebay. Itu hanya merupakan hasil refleksi pribadi Pst. Anton sendiri. Unpar belum pernah menggagas sampai se-dalam dan se-indah itu! Untuk itu sudah layak dan sepantasnya jika kita mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Pst. Dr. Antonius Subianto Bunyamin, OSC.

Pada jaman sekarang ini, di saat orang-orang muda diberi kepercayaan untuk menduduki jabatan tertentu, mereka sangat gigih memegang peraturan demi peraturan itu sendiri. Kalau peraturan menyatakan “tidak boleh kas-bon”, maka walaupun orang itu sudah sekarat mau mati dan mohon kas-bon untuk berobat ke rumah sakit, tetap “tidak boleh kas-bon”. Kalau kupon doorprize diminta dimasukkan dalam kotak paling lambat pukul 09.00, maka pada pukul 09.30 benar-benar sudah tidak bisa disusulkan, kendati itu seorang istri pensiunan sekalipun!

Peraturan harus ditegakkan. Apa boleh buat! Nilai-nilai dasar itu soal lain.
Setelah ada orang yang curhat, sharing di milis, baru semua menawarkan jasa baik (sambil menggerutu dalam hati, menyalahkan orang yang menulis itu).

Jumat, Januari 18, 2013

Gerundel Si Miskin

(dengan seijin penulis, tulisan ini saya arsipkan dalam blog saya)

Wahai para penguasa jagat raya..
kepada siapa saya bisa mengadukan nasib yang terasa malang dan terombang ambing..hingga tumpah ruah air mata ini bercampur kekesalan setelah 6 bulan kutahan karena sebuah pengertian dan permakluman..

Saya karyawan UNPAR yang sudah 22 tahun mencoba untuk mengabdi dengan segala kekurangan saya (dan kelebihan yang mungkin saya miliki) dengan gaji yang pas pasan..


Juni 2012 saya tertimpa musibah dan harus menjalani operasi caesar dan opname selama 1 minggu di RS. St.Borromeus, disini kesedihan mulai tercipta.


Saya pegawai golongan rendah hanya boleh mendapat fasilitas kelas III di RS. Borromeus, kala itu kelas III penuh dan saya pilih menempati kelas II dengan prolog bahwa kelebihan atau selisih biaya kelas ini harus ditanggung sendiri... saya hanya bisa mengangguk setuju dengan keadaan yang sangat kesakitan karna harus segera menjalani operasi..


Setelah merasa agak membaik saya mulai bekerja lagi...dan...blaarr!! saya mendapat kabar baik yang disampaikan sangat merdu melalui surat yang di sign staf biro Keuangan (org baru, muda, gagah...), bahwa pada saat gajian bulan Juli 2012 saya harus melunasi biaya selisih kelebihan rawat inap sebesar Rp. 4.792.800,- yang notabene melebihi gaji saya di bulan itu! (bruto, Rp.4.620.000,-) artinya masih minus dan saya harus nombok....o lala...


Saya menelan ludah pahit dan berusaha mengadu pada penguasa untuk dapat diberi keringanan dengan mencicil 12 x agar terasa lebih ringan (karena saya masih punya utang ke bukopin Rp. 1.830.000 an/bln.), BUKAN TIDAK INGIN MEMBAYAR...tetapi dengan kemurahan hati penguasa yang tidak peduli dengan alasan apapun saya diijinkan mencicil hanya 6x saja dengan alih2 agar akhir tahun ini beres dan pekerjaan kami beres... oh Tuhan... (catatan blogger: hal ini pernah kutulis di bagian bawah tulisan ini
).

Baiklah, saya jalani kewajiban membayar Rp.800.000,-/bln dengan cara potong gaji.

Bersamaan dengan terapi suntik (pengobatan lanjutan) yang harus juga saya jalani selama 6x dengan biaya Rp. 1.400.000,-/bulan (bantuan pinjaman dari teman yang merasa kasihan, Bp. JP. Isnaryono) sampai desember 2012... DONE....!!! rasanya legaaaa..terapi sudah selesai dan utang selisih biaya opname selesai...

Hari berlalu...detik2 pergantian tahun menjelang, ternyata ada sesuatu yg terjadi dengan tubuh yg masih belum 100% sehat ini, sy kembali berobat dan 1 juta lebih melayang karena jatah pengobatan tahun 2012 saldo sudah nol.


6 januari 2013 kembali harus berobat dan ada tindakan yang memakan biaya Rp. 1.153.000,-

dengan harap-harap cemas saya menunggu dapat reimburse karena akan berobat lagi esok hari sabtu tgl. 12 Januari 2013, tidak bisa ditunda..

Harapan saya kembali menjadi bubur lemu...karena harus menunggu Biro Keuangan menghitung saldo pengobatan tahun 2012 untuk seluruh karyawan..

 
Saya mulai gemetar...menahan marah dan bingung...saya mencoba untuk mengajukan kasbon saja dulu...toh pasti nanti akan saya bayar (maaf, gaji bln desember yg pas-pasan itu sudah habis) jawaban nya : MAAF TIDAK BOLEH KASBON!! kulihat ada WAJAH ALLAH disana...

SIAPA SIH YANG INGIN SAKIT DAN MENDERITA??!! TIDAK ADA....saya hanya bisa menangis sambil merenungi nasib...
Wahai penguasa jagat raya, saya kehilangan UNPAR yang dulu punya motto option for the poor??

Wahai penguasa jagat raya, saya
kehilangan UNPAR yang dulu punya motto option for the poor??

Sabtu, Oktober 06, 2012

TAK ADA HATI (LAGI)


(HATI YANG MAU TERLUKA bag 2)

Percuma menunggu "Hati yang Mau Terluka". Hati yang sejuk-nyaman saja susah ditemui di sini. Apalagi hati yang mau terluka. Sudah tertutup. Sudah mati. Sudah tidak ada hati (lagi)....

Aku yakin, jawaban : tidak bisa, nanti banyak orang lain yang meminta hal yang sama... bukan bahasa beliau. Beberapa bulan yang lalu, jawaban itu diucapkan oleh pembisik pimpinan, ketika seorang teman meminta dana olah raga. Jadi itu jelas jawaban si kroco yang di bawah. Pimpinan hanya tinggal menyampaikan saja.

Keterlaluan. Semua di-gebyah-uyah, digenerasilir. Tidak melihat kasus per kasus!

Ceritanya begini: seorang karyawan menulis permohonan agar diijinkan menggunakan fasilitas pinjaman pengobatan tahun 2013, karena plafond 2012 sudah habis. Hal itu terpaksa dimohonkan karena take-home-pay dari gaji ybs sudah tidak memungkinkan lagi untuk menambah pinjaman. (lihat potongan pada tulisan sebelumnya: HATI YANG MAU TERLUKA).

Jawabannya seperti yang aku tuliskan di atas itu. Lebih jauh diminta kepada ybs. untuk menggunakan fasilitas uang muka. Jelas itu saran yang meremehkan kemanusiaan! Menyarankan dengan mata merem. Orang itu memang pembunuh berdarah dingin, sejak dulu!

Duh Gusti, mohon ampun...! Sungguh keterlaluan! Sudah tidak ada hati. Sudah mati!

Sabtu, Agustus 04, 2012

HATI YANG MAU TERLUKA

Selisih tagihan biaya rawat inap rumah sakit antara kelas II dan kelas III adalah sebesar Rp.  4.972.800,-. dimana  selisih ini menjadi tanggungan karyawan ybs.  Ada surat pemberitahuan kepada ybs. ttg hal itu yang ditandatangani oleh salah seorang staf Biro. Seorang staf!

Dari surat pemberitahuan itu terbaca bahwa tagihan itu akan diperhitungkan dengan gaji bulan Juli 2012, padahal besarnya gaji netto ybs. hanya Rp. 4.113.000,- Jadi tidak bisa lunas pada bulan Juli 2012. Pun, jika dipaksakan, akan membunuh karyawan ybs., karena membuat karyawan tsb. tidak bisa makan.

Karyawan tsb. berinisiatif mengajukan permohonan untuk dipotong dari gaji selama 12 bulan, karena menyadari kemampuannya untuk mencicil setiap bulannya.

Atas permohonan itu, pimpinan hanya mengabulkan untuk mencicil selama 6 bulan, sehingga setiap bulannya dipotong dari gaji ybs. sebesar Rp. 799.300,- 

Alasan agar laporan tahunan keuangan lancar/beres pada waktunya, terlalu egois, hanya berpusat pada keperluan dirinya, sama sekali tidak mempertimbangkan kebutuhan pihak lain, karyawan ybs.

Itulah kepemimpinan anak muda. Mereka jenius, dengan indeks prestasi 4,0 atau mendekati, tetapi belum punya hati. Semua masih berpusat pada dirinya sendiri, pada kelompoknya sendiri, pada unitnya sendiri, pada prestasinya sendiri.

Sedih? Ya, tentu sedih. Tetapi harus diterima dan ditelan dengan sabar dan ikhlas. Itu kenyataan jaman sekarang. Yang tua, yang hatinya sudah matang, justru harus dengan “legowo” menyingkir demi anak muda, dengan harap-harap cemas, smoga mereka lekas memiliki hati, hati yang mau terluka untuk sesama, bukan hanya untuk diri sendiri!

Sabtu, April 14, 2012

Belinyu


Di sanalah kepribadianku dibentuk. Sebagai pemuda ingusan dari kampung, kami berempat ditugaskan untuk mengajar di Pulau Bangka. Dua temanku di wilayah Pangkalpinang, dan aku beserta seorang teman, Giri Kuwata, ditempatkan di kota Belinyu, kota kecil di Bangka Utara.


Saat itu, bulan Januari 1975, untuk pertama kalinya aku mengajar di Santa Agnes. Di bawah bimbingan seseorang yang di kemudian hari aku anggap sebagai kakakku sendiri, Pak Sugriwanto, aku menjadi seorang guru yang baik.

Tak seharipun kami lewatkan untuk berdiskusi, sharing tentang hidup dan kehidupan bersama Pak Sugriwanto. Seringkali kami sharing di atas makam Sr. Ignata dari sore sampai pagi hari. Lambat laun kemanusiaan kamipun tergodok dan tertempa melalui hal-hal kecil yang kami alami dalam hidup sehari-hari.

Pada waktu umurku belum dua puluh, aku sudah mengurus semua keperluanku sendiri. Dari urusan pakaian yang kupakai untuk mengajar, sampai soal makan. Belum lagi pekerjaan rutin sebagai seorang guru yang harus mempersiapkan diri untuk mengajar, mengoreksi pekerjaan murid-murid dlsb.

Aku juga mengurusi anak-anak misdinar. Sebelumnya mereka tak ‘terwadahi’. Mereka langsung menerima perintah dari Pastor Paroki, yang notabene sudah tua. Tak jarang mereka bertugas karena takut. Aku sekedar membantu pastor untuk mengkoordinasi mereka. Membuat tugas harian, mingguan dan latihan untuk hari-hari raya, mengajak mereka rekreasi dan bermain.

Di luar jam mengajar, masih bersama Pak Sugri (demikian aku memanggilnya), kami bekerja sebagai tenaga lepas pada sebuah asuransi jiwa yang sudah tua. Kami menikmati itu, sering kali kami harus naik perahu kecil satu sampai dua jam menuju satu kota untuk menyampaikan kuitansi premi asuransi kepada para nasabah.

Dari situlah kerpibadianku tumbuh. Aku yang sekarang ini, sebenarnya dibentuk dan ditempa oleh kehidupanku pada tiga puluh lima tahun yang lalu. Untuk itu aku bersyukur boleh mengalami hal-hal itu semua….


Sabtu, Maret 31, 2012

Gua Maria Pelindung Segala Bangsa

Setelah 36 tahun kutinggalkan, akhirnya aku bisa melihat kembali kota Belinyu, sebuah kota kecil di Pulau Bangka Bagian Utara. Kota itu hanya kota kecamatan, tetapi menjadi ‘ramai’ karena ada pelabuhan di sana.

Pada bulan Januari 1975 aku mulai mengajar di SD. St. Agnes di kota Belinyu ini. Pada saat itu Belinyu adalah kota yang sepi. Sampai akhir 1976, Belinyu kutinggalkan untuk melanjutkan perantauan dan pencarian di kota Bandung, Jawa Barat.

Aku sangat bersyukur karena pada hari Sabtu, 24 Maret 2012, aku dapat berkunjung kembali di kota Belinyu. Walaupun hanya sebentar, tetapi seluruh bayangan, walau samar-samar, tercipta kembali.

Syukur tak terhingga kepada Bunda Maria, Pelindung Segala Bangsa, yang pasti telah menuntunku kembali ke Belinyu. Betapa tidak. Jika di sana tidak bertahta Bunda Maria dalam sebuah Gua yang sangat bagus, di tengah pelataran dan taman yang terawat rapih, aku mungkin takkan pernah sampai sana.

Terima kasih, O Bunda Kudus...

Setelah doa Jalan Salib dan doa pribadi, baik di Gua maupun di Bilik Hening, kami bertujuh menikmati Bakmi Pelangi Belinyu. Dari situ kami meluncur ke Pelabuhan, sekedar menghidupkan kenangan yang telah memudar, samar-samar.

Mobil meluncur ke arah Pangkalpinang melewati Hotel Citra di Jl. Jendal Sudirman Sungailiat, tempat kami menginap malam sebelumnya. Istirahat sejenak di Raja Laut untuk menyantap sabu, kami langsung ke Pantai Matras, Pantai Rebo, Shaolin Temple dan terakhir mengunjungi Tempat Ibadah Dewi Kuan Yin.

Sampai Hotel Puri di Pangkalpinang sudah jam 20.00 lebih, tidak kuat lagi keluar selain istirahat total di sana.

Setelah mengikuti ekaristi di Katedral jam 08.00, pada hari minggu itu kami mencari-cari yang aneh di Pangkalpinang. Sempat beli jajanan pasar, kue-kue basah, dan akhirnya kami sampai pada pusat oleh-oleh dari Bangka.

Tanpa terasa, kami sudah harus sampai Bandara Dipati Amir.
Selamat tinggal Pak Endang, guide kami selama di Bangka.
Selamat tinggal Pangkalpinang, Sungailiat dan Belinyu.
Selamat tinggal kenangan.


Jumat, Desember 23, 2011

BAPAK ~ ANAK


Pa,

Kenapa sih memaksakan diri hari ini kerja,

ini h-1 natal lho Pa?

Sejak saya kecil, Papa mengajari kami

untuk meluangkan waktu paling tidak h-1

untuk mempersiapkan natal dgn keluarga

kenapa sih Papa memaksakan diri bekerja hari ini?

Kalau memang tidak diliburkan oleh kantor

(mungkin kantor Papa memang tidak merayakan natal)

mungkin bisa bolos atau libur atau cuti sehari ini saja?

Kan kami sudah ingin memasang pohon natal,

menghiasi pohon natal dan bungkus2 kado

-----

anakku tercinta,

papa mohon maaf ya,

akhir tahun ini adalah akhir tahun yang sibuk

saking sibuknya papa tidak bisa cuti walaupun cuma sehari

atau sebenarnya papa tidak berani mengajukan cuti

karena tidak tega sama teman2 papa yang sibuk di kantor

........

Pikiranku melayang-layang:

memang seharusnya aku cuti hari ini, sehari saja

hak cuti toh masih banyak, kenapa tidak cuti saja?

Cuti kan hak pegawai?

Kini aku cuma bisa menangis dalam hati

Mengapa aku tidak mampu konsisten dgn ajaranku sendiri pada anak2ku?

Aku jadi teringat pada tahun2 yang lalu

pada h-1 selalu sudah libur, jadi tidak perlu ambil cuti.

Karena itulah mungkin aku lupa memohon cuti.

Tapi seandainya ingat pun, aku tak akan tega (dan berani)

untuk ambil cuti, karena kesibukan di kerjaan.

Maafkan papa nak...,

Karena papa tidak bisa libur pada hari ini, hari h-1

mudah2an tahun depan para pembesar di kantor papa

tidak membebani pegawainya dengan kerjaan yang padat

dan justru memberikan libur kepada para pegawainya.

Maafkan papa nak...,

Papa rasa para pemimpin di kantor papa juga katolik

tapi yang namanya hati pada jaman sekarang sudah punah

hati nurani mereka gadaikan demi pujian, pangkat, kedudukan, uang

jadi bertolak belakang dengan jiwa natal itu sendiri

Maafkan papa nak....